Sejarah Desa Taro

Sebagaimana lazimnya sebuah wilayah, nama Desa Taro diyakini memiliki latar belakang historis yang sarat makna dan nilai spiritual. Sejarah Desa Taro tersusun dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun oleh para penglingsir, yang hingga kini tetap menjadi pijakan utama dalam memahami asal-usul dan perjalanan desa.

Kesucian dan kebenaran kisah ini tidak hanya hidup dalam tradisi, tetapi juga diperkuat oleh Kitab Markandeya Purana serta keberadaan tunggul prasasti di Pura Agung Gunung Raung, yang menjadi saksi sejarah perjalanan suci Ida Rsi Markandya.

Jejak Suci Ida Rsi Markandya

Berdasarkan kisah dalam Markandeya Purana, Ida Rsi Markandya lahir di India pada abad ke-4 atas restu Dewa Siwa. Berkat keteguhan tapa dan kesucian batinnya, beliau dianugerahi gelar Maha Yogi, yang mencerminkan kekuatan spiritual dan kedalaman pengendalian diri.

Perjalanan suci beliau dimulai dari India menuju Asia Tenggara, hingga akhirnya tiba di Nusantara. Dari Pulau Kalimantan, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Jawa. Dalam perjalanan spiritual tersebut, beliau menghadapi berbagai rintangan, termasuk gangguan kekuatan negatif yang digambarkan sebagai raksasa. Namun dengan kekuatan yoga dan restu ilahi, seluruh rintangan tersebut dapat dilalui.

Dari kawasan Gunung Raung di Jawa Timur, Ida Rsi Markandya melihat pancaran sinar suci ke arah timur. Sinar tersebut diyakini berasal dari Gunung Agung di Bali, yang secara spiritual dipandang sebagai perwujudan Gunung Himalaya. Terpanggil oleh visi tersebut, beliau menghimpun para pengikut yang dikenal sebagai Wong Aga untuk melakukan perjalanan menuju Bali.

Perjalanan Menuju Bali dan Penanaman Panca Datu

Perjalanan pertama menuju Bali penuh tantangan, di mana banyak pengikut beliau gugur akibat kerasnya alam. Ida Rsi Markandya kemudian kembali ke Gunung Raung untuk melakukan tapa kembali. Dalam tapa kedua, beliau memperoleh petunjuk untuk membawa Panca Datu, yaitu lima unsur logam suci sebagai simbol keseimbangan alam semesta.

Dengan kekuatan spiritual tersebut, beliau kembali memimpin sekitar 800 pengikut menuju Bali. Setibanya di lereng Gunung Agung, beliau menemukan tumpukan batu yang diyakini sebagai tempat suci, dan di sanalah Panca Datu ditanam. Tempat ini kemudian dikenal sebagai Pura Besakih, yang hingga kini menjadi pusat spiritual umat Hindu di Bali.

Lahirnya Desa Taro

Dari lereng Gunung Agung, perjalanan dilanjutkan ke arah barat hingga mencapai kawasan Penulisan. Selanjutnya, Ida Rsi Markandya mengutus para pengikutnya untuk membuka pemukiman ke arah selatan.

Ketika beliau menyusul ke selatan dan tiba di kawasan yang kini dikenal sebagai Pura Sabang Daat, beliau bertemu kembali dengan para pengikutnya. Saat ditanya mengapa mereka tidak kembali ke Penulisan, para pengikut menjelaskan bahwa di tempat tersebut tersedia segala kebutuhan hidup, baik pangan maupun air, secara melimpah.

Kondisi ini kemudian dikenal dengan istilah “Sarwada” (dibaca: Sarwa Ada), yang berarti segala sesuatu tersedia. Dari makna inilah diyakini lahir nama Taro, sebagai identitas wilayah yang berkembang dari pemukiman awal tersebut.

Wilayah ini kemudian ditata menjadi kawasan hunian dan pertanian, lengkap dengan sistem irigasi tradisional (subak) sebagai fondasi kehidupan masyarakat. Salah satu kawasan awal tersebut kini dikenal sebagai Desa Puakan.

Perjalanan Spiritual Lanjutan

Perjalanan Ida Rsi Markandya berlanjut hingga ke kawasan Campuhan Sungai Wos. Di tempat ini beliau kembali melakukan tapa dan menyadari adanya keselarasan energi suci yang menyerupai Sapta Gangga di India, yaitu tujuh sungai suci sebagai sumber kehidupan spiritual.

Sebagai wujud penghormatan, beliau mendirikan pelinggih yang dikenal sebagai Pura Gunung Luah, yang melambangkan kesatuan antara gunung sebagai simbol ketinggian spiritual dan sungai sebagai sumber kehidupan.

Penetapan Nama dan Warisan Desa

Dari kawasan tersebut, Ida Rsi Markandya memandang kembali ke arah utara menuju pemukiman awal yang disebut Sarwada Utara, yang kemudian dikenal sebagai Taro. Nama ini selanjutnya digunakan sebagai identitas desa yang terus berkembang hingga kini.

Beliau juga melaksanakan upacara penyucian (prelina) bagi para pengikutnya yang telah gugur, yang kemudian melahirkan nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial masyarakat yang dikenal dengan konsep banjar, sebagai wadah suka dan duka bersama.

Berdasarkan penuturan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun, Desa Taro diperkirakan telah ada sejak tahun Caka 381 atau sekitar 459 Masehi, menjadikannya sebagai salah satu desa tua yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat tinggi di Bali.

Penutup

Sejarah Desa Taro bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan fondasi spiritual dan budaya yang membentuk jati diri masyarakatnya hingga saat ini. Nilai-nilai ketekunan, keseimbangan alam, serta keharmonisan hidup yang diwariskan oleh Ida Rsi Markandya terus hidup dan menjadi pedoman dalam perjalanan Desa Taro menuju masa depan.