TARO, TEGALLALANG — Desa Wisata Taro kembali menjadi ruang belajar terbuka bagi generasi muda. Tiga mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar melakukan kunjungan survei ke Desa Wisata Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, pada Jumat, 18 September 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pemenuhan tugas akademik pada mata kuliah Audio Visual di lingkungan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali.

Kunjungan akademik tersebut disambut oleh IT Desa Taro, I Made Suparsa, S.Kom. Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menggali informasi secara langsung mengenai berbagai potensi Desa Taro, khususnya yang berkaitan dengan objek-objek wisata, sejarah serta warisan tradisi desa, hingga metode dan tantangan dalam pengelolaan destinasi wisata.

Berdasarkan surat resmi dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Bali Nomor 9812/DSTT.5.1/HM.03.01/2026 tertanggal 17 September 2026, kegiatan survei tersebut dilaksanakan dalam rangka mendukung proses pembelajaran mahasiswa. Surat tersebut menjelaskan bahwa mahasiswa diwajibkan melakukan survei atau penelitian menurut kebutuhan Program Studi, dengan metode pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi. Surat mahasiswa ISI Denpasar.pdf

Tiga Mahasiswa, Satu Tujuan Akademik

Tiga mahasiswa yang melaksanakan survei tersebut masing-masing adalah I Putu Dimas Wirayudadengan NIM 202406042, I Putu Gading Bagus Maesha dengan NIM 202406046, serta Wilson Bayu Kusumadyajaya dengan NIM 202406068. Ketiganya tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV).

Bagi mahasiswa DKV, kunjungan lapangan seperti ini memiliki arti penting karena proses pembelajaran tidak berhenti pada ruang kelas. Lingkungan desa, masyarakat, kebudayaan, lanskap, tradisi, serta aktivitas kepariwisataan dapat menjadi sumber data sekaligus bahan visual yang bernilai dalam proses penciptaan karya audio visual.

Desa Taro, dengan karakter budaya dan lingkungan yang kuat, menjadi objek yang menarik untuk dipelajari dari perspektif tersebut. Berbagai elemen kehidupan desa dapat dilihat bukan hanya sebagai potensi pariwisata, tetapi juga sebagai narasi visual yang memiliki nilai sejarah, sosial, budaya, dan ekologis.

Menggali Desa Taro dari Tiga Perspektif

Dalam surat permohonan survei, ISI Bali secara khusus menyebutkan tiga kelompok informasi yang diperlukan mahasiswa, yaitu objek-objek wisata yang terdapat di Desa Taro, sejarah dan warisan tradisi Desa Taro, serta metode dan rintangan dalam mengelola objek wisata.

Ketiga aspek tersebut memberikan arah yang cukup jelas terhadap kegiatan survei. Mahasiswa tidak sekadar datang untuk melihat destinasi, tetapi berusaha memahami cerita di balik sebuah destinasi.

Objek wisata menjadi lapisan pertama yang dapat diamati secara visual. Namun, di balik sebuah tempat wisata terdapat sejarah, masyarakat, tradisi, nilai-nilai budaya, serta proses pengelolaan yang membuatnya memiliki identitas.

Sementara itu, aspek sejarah dan warisan tradisi memberikan konteks yang lebih dalam. Sebuah karya audio visual yang kuat tidak hanya bergantung pada gambar yang indah, tetapi juga pada kemampuan menghubungkan gambar dengan cerita dan makna yang hidup di tengah masyarakat.

Perspektif ketiga, yakni metode dan tantangan pengelolaan objek wisata, membawa mahasiswa pada pemahaman mengenai bagaimana sebuah potensi desa dikelola agar tetap memiliki nilai bagi masyarakat sekaligus dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

IT Desa Taro Menjadi Jembatan Informasi

Dalam kunjungan tersebut, I Made Suparsa, S.Kom. selaku IT Desa Taro menyambut dan memberikan pendampingan informasi kepada ketiga mahasiswa.

Kehadiran unsur teknologi informasi dalam kegiatan ini menjadi bagian yang relevan dengan perkembangan Desa Wisata Taro di era digital. Informasi mengenai desa, potensi wisata, kegiatan masyarakat, budaya, maupun berbagai program desa kini tidak hanya disampaikan secara konvensional, tetapi juga dapat dikemas melalui media digital dan audio visual.

Bagi mahasiswa DKV, interaksi langsung dengan pengelola dan sumber informasi di desa menjadi kesempatan untuk memahami bagaimana sebuah tempat memiliki identitas visual dan narasi yang dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk komunikasi kreatif.

Dengan metode wawancara dan dokumentasi, mahasiswa dapat memperoleh data langsung sekaligus menangkap suasana, aktivitas, lingkungan, dan berbagai elemen visual yang mendukung kebutuhan tugas akademiknya. Surat mahasiswa ISI Denpasar.pdf

Desa sebagai Ruang Belajar yang Hidup

Kunjungan tiga mahasiswa ISI Denpasar tersebut memperlihatkan bahwa desa wisata tidak hanya berfungsi sebagai tujuan rekreasi, tetapi juga dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang hidup.

Di Desa Taro, mahasiswa dapat melihat bagaimana alam, budaya, tradisi, sejarah, masyarakat dan pariwisata berinteraksi dalam satu ruang kehidupan. Dari perspektif audio visual, setiap unsur tersebut memiliki kemungkinan untuk diterjemahkan menjadi cerita yang memiliki karakter dan identitas lokal.

Hal ini sekaligus menunjukkan pentingnya keterhubungan antara institusi pendidikan tinggi dengan masyarakat desa. Kampus membawa perspektif akademik dan kreativitas generasi muda, sementara desa menyediakan realitas kehidupan, pengalaman, pengetahuan lokal, serta kekayaan budaya yang tidak selalu dapat ditemukan di dalam ruang kelas.

Pertemuan keduanya dapat melahirkan proses pembelajaran yang lebih kontekstual—mahasiswa belajar dari masyarakat, sementara desa mendapatkan ruang untuk memperkenalkan potensi dan narasinya melalui perspektif generasi kreatif.

Mengubah Potensi Menjadi Cerita

Bagi Desa Wisata Taro, kegiatan survei seperti ini juga memiliki makna strategis. Potensi wisata tidak cukup hanya dimiliki; ia perlu didokumentasikan, dikomunikasikan, dan diceritakan dengan cara yang relevan dengan perkembangan zaman.

Generasi mahasiswa DKV memiliki kemampuan untuk melihat sebuah destinasi melalui bahasa visual. Mereka dapat menangkap detail yang mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dirangkai menjadi sebuah karya audio visual, detail tersebut dapat berubah menjadi cerita mengenai identitas sebuah desa.

Karena itu, kunjungan ini bukan sekadar aktivitas akademik. Ia menjadi sebuah perjumpaan antara pengetahuan kampus dan pengetahuan desa, antara kreativitas mahasiswa dan kekayaan lokal, serta antara dokumentasi dengan upaya membangun narasi tentang Desa Wisata Taro.

Pada akhirnya, sebuah destinasi tidak hanya dikenang karena tempat yang dikunjungi, tetapi karena cerita yang berhasil disampaikan.

Dan dari Desa Taro, tiga mahasiswa ISI Denpasar datang untuk mencari cerita itu—melalui objek wisata, sejarah, tradisi, masyarakat, serta realitas pengelolaan pariwisata yang mereka temukan secara langsung di lapangan.

Desa Taro bukan sekadar objek yang direkam kamera. Ia adalah ruang kehidupan dengan cerita yang terus tumbuh, diwariskan, dan kini mulai diterjemahkan ke dalam bahasa visual oleh generasi muda.