TARO – Pemerintah Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, menggelar kegiatan Rembuk Stunting Desa Taro Tahun 2026 pada Jumat, 5 Juni 2026, bertempat di Ruang Rapat Kantor Desa Taro. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat komitmen bersama serta menyusun langkah strategis percepatan penurunan stunting di tingkat desa secara terpadu, terukur, dan berkelanjutan.

Pelaksanaan rembuk stunting tersebut dihadiri oleh berbagai unsur lintas sektor, mulai dari pemerintah desa, tenaga kesehatan, pendamping desa, PLKB, kader kesehatan, TP PKK, hingga unsur kelembagaan masyarakat desa. Kehadiran seluruh elemen tersebut menunjukkan bahwa penanganan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan semata, melainkan merupakan gerakan bersama dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai proses dan mekanisme pelaksanaan rembuk stunting yang disampaikan oleh Anak Agung Indra dari Promkes UPT Puskesmas Tegallalang II bersama Eka Anggawati selaku Pendamping Desa. Dalam paparannya dijelaskan bahwa rembuk stunting merupakan forum strategis desa untuk menyinergikan program pembangunan desa dengan fokus percepatan penurunan stunting melalui intervensi spesifik dan sensitif.
Pemaparan tersebut menekankan pentingnya integrasi program antar-sektor, validasi data keluarga berisiko stunting, penguatan edukasi kesehatan masyarakat, optimalisasi pelayanan dasar kesehatan, serta penguatan peran kader dan kelembagaan desa sebagai garda terdepan pendampingan masyarakat.

Selanjutnya, pemaparan terkait hasil IHDW disampaikan oleh KPM Desa Taro, Putu Ekayanti. Dalam pemaparannya, dijelaskan berbagai hasil pendataan lapangan yang menjadi dasar evaluasi sekaligus acuan penyusunan program prioritas desa dalam penanganan stunting Tahun 2026.
Data hasil IHDW tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi keluarga sasaran, pemenuhan gizi ibu dan anak, pola pengasuhan, akses sanitasi, hingga faktor-faktor risiko lainnya yang berkaitan dengan potensi stunting di masyarakat. Data tersebut dinilai sangat penting untuk memastikan program yang dirancang benar-benar tepat sasaran dan berbasis kebutuhan riil masyarakat.
Forum rembuk berlangsung aktif dan partisipatif. Para peserta turut memberikan berbagai masukan strategis terkait peningkatan kualitas pelayanan Posyandu, penguatan ketahanan pangan keluarga, edukasi pola asuh anak, sanitasi lingkungan, hingga pentingnya perhatian terhadap 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai fase paling krusial dalam pencegahan stunting.

Pelaksanaan kegiatan ini juga memperkuat implementasi berbagai regulasi nasional yang menjadi dasar percepatan penurunan stunting di Indonesia. Di antaranya, mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, yang menegaskan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara holistik, integratif, dan terkoordinasi lintas sektor dari tingkat pusat hingga desa.
Selain itu, rembuk stunting desa juga sejalan dengan amanat Permendesa PDTT Nomor 13 Tahun 2023 tentang Petunjuk Operasional atas Fokus Penggunaan Dana Desa Tahun 2024 yang menempatkan penanganan stunting sebagai salah satu prioritas penggunaan Dana Desa, khususnya dalam mendukung layanan kesehatan dasar, peningkatan gizi masyarakat, sanitasi, dan pemberdayaan keluarga.
Kegiatan ini turut mendukung arah kebijakan pembangunan nasional dalam mewujudkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045, dimana kualitas kesehatan anak menjadi fondasi utama pembangunan sumber daya manusia yang produktif, sehat, dan berdaya saing.
Pemerintah Desa Taro menegaskan bahwa stunting bukan hanya persoalan pertumbuhan fisik anak, tetapi berkaitan langsung dengan kualitas masa depan generasi bangsa. Oleh sebab itu, penanganannya membutuhkan keseriusan, konsistensi, serta keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor yang terus diperkuat, Desa Taro optimistis mampu mewujudkan lingkungan yang sehat, keluarga yang sadar gizi, serta generasi muda yang tumbuh optimal secara fisik, mental, dan intelektual demi masa depan desa yang lebih maju dan berkualitas.