TARO, GIANYAR — Komitmen Desa Taro dalam mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat dan memperkuat ekonomi lokal terus dibangun melalui kolaborasi bersama Bakti BCA. Salah satu bentuk kesinambungan kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Bakti BCA, yang menjadi ruang penting bagi desa binaan untuk berkomunikasi, mengevaluasi perkembangan, berbagi pengalaman, serta menyusun langkah pengembangan ke depan.

Bagi Desa Taro, Rakor Bakti BCA bukan sekadar agenda pertemuan tahunan. Forum ini menjadi bagian dari proses pembinaan yang memungkinkan desa untuk terus memperkuat kapasitas, membangun jejaring, serta menyelaraskan pengembangan pariwisata dengan pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi desa.

Dalam Rakor tersebut, Desa Taro diwakili oleh tiga unsur yang memiliki peran strategis dalam ekosistem desa wisata, yakni Perbekel Taro I Wayan Warka, Ketua Pokdarwis Desa Wisata Taro I Wayan Gede Ardika, SE, serta I Wayan Eka Yowana yang mewakili unsur UMKM melalui BUMDes.
Kehadiran ketiga unsur tersebut mencerminkan pentingnya keterpaduan antara pemerintah desa, pengelola destinasi wisata, dan kekuatan ekonomi masyarakat. Ketiganya memiliki peran yang berbeda, tetapi berada dalam satu tujuan: memastikan pengembangan Desa Wisata Taro dapat berjalan secara terarah, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Rakor sebagai Ruang Strategis Desa Binaan
Keberadaan Desa Taro dalam ekosistem Desa Binaan Bakti BCA memiliki perjalanan yang cukup panjang. Salah satu titik pentingnya berawal dari keberhasilan Desa Taro meraih Juara I Lomba Desa Wisata Nusantara kategori alam pada tahun 2021.
Prestasi tersebut menjadi momentum yang memperkuat posisi Taro sebagai desa wisata sekaligus membuka kesempatan untuk membangun hubungan pembinaan dan kolaborasi yang lebih luas.
Sebagai desa binaan, Desa Taro bersama desa-desa binaan lainnya secara berkelanjutan mendapatkan ruang untuk mengikuti berbagai kegiatan pengembangan kapasitas dan koordinasi. Karena itu, Rakor Bakti BCA menjadi salah satu forum penting untuk menjaga kesinambungan hubungan tersebut.
Rakor memberikan ruang bagi desa untuk tidak hanya menyampaikan perkembangan, tetapi juga melihat kembali perjalanan yang telah dilakukan, mengidentifikasi tantangan, bertukar pengalaman, serta menemukan kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi.
Dengan demikian, nilai utama Rakor tidak terletak pada pertemuannya semata, melainkan pada pengetahuan, jejaring, dan gagasan yang dapat dibawa pulang untuk kemudian diterapkan di masing-masing desa.
Dari Prestasi Nasional Menuju Jejaring Internasional
Perjalanan Desa Taro sebagai desa binaan Bakti BCA kemudian berkembang ke berbagai kesempatan yang lebih luas.
Salah satu momentum penting terjadi pada 2025, ketika Desa Wisata Taro mendapatkan dukungan BCA melalui program Bakti BCA untuk membawa nama Indonesia dalam ajang ITB Berlin, pameran pariwisata internasional yang menjadi salah satu ruang penting bagi industri pariwisata dunia.

Pada kesempatan tersebut, Desa Wisata Taro diwakili oleh I Made Suparsa.
Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Taro untuk memperkenalkan potensi desa pada ruang internasional sekaligus membangun perspektif bahwa desa wisata Indonesia memiliki peluang untuk tampil dalam jejaring pariwisata global.

Langkah tersebut kembali berlanjut pada 2026, ketika Desa Wisata Taro kembali mendapat kesempatan hadir di ITB Berlin dan diwakili oleh Ketua Pokdarwis Desa Wisata Taro, I Wayan Gede Ardika, SE.
Rangkaian perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pembinaan tidak berhenti pada sebuah penghargaan. Sebaliknya, penghargaan dapat menjadi pintu masuk menuju proses yang lebih panjang—mulai dari penguatan kapasitas, pembangunan jejaring, hingga terbukanya kesempatan untuk memperkenalkan potensi desa di tingkat internasional.
Pemerintah, Pokdarwis dan BUMDes Bergerak Bersama
Dalam Rakor Bakti BCA, keterwakilan Desa Taro melalui tiga unsur tersebut menjadi sangat relevan.

Perbekel Taro I Wayan Warka merepresentasikan Pemerintah Desa sebagai unsur yang memiliki peran penting dalam arah kebijakan, kelembagaan, dan pembangunan desa.
I Wayan Gede Ardika, SE sebagai Ketua Pokdarwis membawa perspektif pengelolaan dan pengembangan Desa Wisata Taro, termasuk bagaimana potensi alam, budaya, masyarakat, serta pengalaman wisata dapat terus dikembangkan.

Sementara I Wayan Eka Yowana melalui unsur BUMDes membawa perspektif ekonomi dan pemberdayaan usaha masyarakat.
Keterhubungan ketiga unsur tersebut menjadi fondasi penting karena desa wisata tidak dapat dikembangkan hanya dari sisi destinasi. Pariwisata perlu terhubung dengan masyarakat, UMKM, produk lokal, kelembagaan desa, serta berbagai aktivitas ekonomi yang dapat menciptakan nilai tambah.
Dengan pendekatan tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat sebuah tempat, tetapi juga dapat berinteraksi dengan kehidupan masyarakat dan menikmati berbagai produk serta pengalaman yang tumbuh dari potensi lokal.
Memperkuat Kapasitas, Bukan Sekadar Mengejar Kunjungan
Pengembangan desa wisata pada akhirnya bukan hanya tentang meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kunjungan tersebut mampu menciptakan dampak positif bagi masyarakat, memperluas peluang usaha, memperkuat UMKM, membuka ruang inovasi, sekaligus menjaga kelestarian alam dan identitas budaya.
Karena itu, forum seperti Rakor Bakti BCA memiliki arti penting.
Desa mendapatkan kesempatan untuk melihat pengembangan pariwisata dari perspektif yang lebih luas. Pengalaman dari desa lain dapat menjadi bahan pembelajaran, sementara keberhasilan yang telah dicapai dapat menjadi modal untuk terus dikembangkan.
Dalam konteks inilah semangat kolaborasi menjadi sangat penting.
Tidak ada desa yang berkembang hanya karena satu program. Dibutuhkan kesinambungan antara komitmen pemerintah, kapasitas masyarakat, pengelolaan destinasi, kekuatan ekonomi lokal, serta dukungan dan jejaring dari mitra strategis.
Menjaga Jati Diri di Tengah Perubahan
Bagi Desa Taro, berbagai kesempatan yang lahir dari hubungan dengan Bakti BCA juga membawa tanggung jawab untuk terus menjaga identitas desa.
Semakin luas Taro dikenal, semakin penting pula memastikan bahwa perkembangan pariwisata tidak menghilangkan karakter yang menjadi kekuatan utama desa.
Alam, budaya, tradisi, kehidupan masyarakat, serta kearifan lokal bukan sekadar materi promosi. Semua itu merupakan fondasi yang memberikan karakter dan keunikan bagi Desa Wisata Taro.
Karena itu, pengembangan ke depan perlu terus menemukan keseimbangan antara daya saing dan keberlanjutan, inovasi dan tradisi, pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Rakor sebagai Langkah Melanjutkan Perjalanan
Rapat Koordinasi Bakti BCA pada akhirnya menjadi bagian dari perjalanan panjang Desa Taro dalam membangun pariwisata yang semakin profesional dan berkelanjutan.
Dari prestasi Juara I Lomba Desa Wisata Nusantara kategori alam tahun 2021, perjalanan Taro berlanjut menjadi desa binaan Bakti BCA, kemudian memperoleh kesempatan memperkenalkan Indonesia melalui ITB Berlin pada 2025 dan kembali hadir pada 2026.
Namun, perjalanan tersebut belum selesai.
Setiap forum koordinasi menjadi kesempatan untuk belajar. Setiap kolaborasi menjadi peluang untuk berkembang. Dan setiap pencapaian menjadi tanggung jawab untuk menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
Bagi Desa Taro, Rakor Bakti BCA bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari mekanisme untuk menjaga komunikasi, memperkuat sinergi, meningkatkan kapasitas, dan memastikan perjalanan pengembangan desa wisata tetap berada pada arah yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, desa wisata yang kuat bukan hanya desa yang memiliki potensi untuk dikunjungi, tetapi desa yang mampu mengelola potensinya, memberdayakan masyarakatnya, menggerakkan ekonominya, menjaga identitasnya, dan membangun kolaborasi untuk menghadapi masa depan.
Desa Taro akan terus menjaga semangat tersebut.
Berkembang tanpa kehilangan jati diri. Berkolaborasi tanpa kehilangan kemandirian. Dan membawa potensi desa dari Taro, Gianyar, Bali, untuk terus dikenal di tingkat Indonesia hingga dunia.
Redaksi/Penulis: IT Desa Taro