TARO, 5 NOVEMBER 2026 – Guyuran hujan deras yang melanda wilayah Desa Taro sejak Minggu sore, 1 November 2026, hingga Senin dini hari, 2 November 2026, mengakibatkan pohon enau atau pohon jaka tumbang di kawasan Hutan Adat Alas Jaka, Banjar Taro Kaja. Peristiwa tersebut berdampak pada dua tempat suci, yakni Pura Kerta Sari dan Pura Panti Masceti yang berada di sisi baratnya. Batang pohon yang tumbang mengenai bagian bangunan pelinggih sehingga menyebabkan kerusakan pada sejumlah bagian bangunan suci.

Kedua pura tersebut berada di tengah kawasan hutan adat yang memiliki nilai penting dalam kehidupan spiritual dan tradisi masyarakat Taro Kaja. Keberadaannya bukan semata-mata sebagai bangunan fisik tempat persembahyangan, melainkan juga bagian dari warisan leluhur yang menyimpan nilai historis, religius, dan kultural bagi masyarakat setempat.
Dampak kejadian terlihat dari material pohon enau yang menimpa area pelinggih, disertai ranting dan puing-puing yang berserakan di sekitar kawasan pura. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan secara hati-hati dengan tetap memperhatikan kesucian tempat suci dan ketentuan adat yang berlaku.

PENGHORMATAN TERHADAP TRADISI WATUGUNUNG
Meskipun peristiwa telah terjadi sejak awal November, masyarakat setempat tidak dapat langsung melaksanakan pembersihan. Hal ini berkaitan dengan berlangsungnya rangkaian Wuku Watugunung hingga Pagerwesi, yang dalam tradisi masyarakat Taro Kaja dan Taro Kelod dikenal dengan istilah nyebelang Watugunung atau Pelabuan.
Dalam ketentuan adat dan keyakinan masyarakat setempat, periode tersebut merupakan masa pantangan untuk memasuki pura maupun tempat-tempat suci tertentu. Atas dasar penghormatan terhadap tradisi tersebut, kegiatan pembersihan baru dapat dilaksanakan setelah rangkaian pantangan berakhir.
Penundaan ini bukan berarti mengabaikan kondisi kerusakan, melainkan bentuk kepatuhan masyarakat terhadap tatanan adat dan nilai kesucian yang diwariskan secara turun-temurun.
FILOSOFI WATUGUNUNG PENGENDALIAN EGO DAN PENGHORMATAN TERHADAP ALAM
Di balik pelaksanaan tradisi Watugunung, tersimpan kisah dan pesan filosofis yang mendalam. Dalam kisah tersebut, Watugunung diceritakan hendak memperistri ibunya sendiri, Dewi Sinta. Peristiwa ini menjadi bagian dari narasi yang mengandung pembelajaran tentang kesadaran diri, pengendalian ego, serta pentingnya menjaga tatanan kehidupan.
Dalam refleksi filosofis, kisah Watugunung dapat dimaknai sebagai pengingat bahwa kekuatan dan keinginan manusia yang tidak disertai kebijaksanaan dapat membawa kerusakan terhadap keseimbangan kehidupan.
Alam, yang dalam filosofi kehidupan masyarakat Bali dipandang sebagai Ibu Pertiwi, bukan sekadar ruang untuk dieksploitasi, melainkan sumber kehidupan yang harus dihormati dan dijaga keberlangsungannya.
Pesan ini menjadi semakin relevan ketika bencana alam terjadi. Manusia diingatkan bahwa dirinya merupakan bagian dari alam, bukan penguasa yang dapat bertindak tanpa batas. Keselarasan antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual merupakan nilai yang harus terus dirawat.
GOTONG ROYONG PEMBERSIHAN DILAKSANAKAN 5 NOVEMBER
Setelah rangkaian pantangan adat berakhir, pada Kamis, 5 November 2026, masyarakat bersama para pengempon Pura Kerta Sari dan Pura Panti Masceti melaksanakan kegiatan pembersihan di kawasan kedua pura tersebut.
Kegiatan difokuskan pada pengangkatan batang pohon enau yang tumbang, pemindahan ranting dan material kayu, serta pembersihan puing-puing yang menutupi area sekitar pelinggih. Proses pembersihan dilakukan secara bergotong royong sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab bersama terhadap keberadaan tempat suci.
Pembersihan ini menjadi langkah awal untuk memulihkan kebersihan dan kondisi lingkungan pura pascakejadian. Sementara itu, bagian pelinggih yang mengalami kerusakan memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut dengan tetap memperhatikan ketentuan adat serta tata cara pemulihan bangunan suci.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap kondisi pepohonan di kawasan hutan adat, khususnya pohon-pohon berukuran besar yang berpotensi tumbang ketika diterpa hujan deras dan kondisi cuaca ekstrem.
MERAWAT WARISAN LELUHUR, MENJAGA KEHARMONISAN ALAM
Peristiwa yang menimpa Pura Kerta Sari dan Pura Panti Masceti bukan sekadar persoalan kerusakan bangunan akibat cuaca ekstrem. Lebih dari itu, kejadian ini memperlihatkan eratnya hubungan antara kehidupan masyarakat adat, alam, dan nilai spiritual yang menjadi landasan kehidupan di Desa Taro.
Melalui semangat gotong royong, masyarakat menunjukkan bahwa menjaga warisan leluhur merupakan tanggung jawab bersama. Penghormatan terhadap tradisi tetap berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan dan upaya pemulihan tempat suci.
Pada akhirnya, menjaga kesucian pura tidak hanya berarti merawat bangunan dan pelinggih, tetapi juga menjaga kawasan alam yang menaunginya, menghormati tradisi yang diwariskan, serta memastikan nilai-nilai luhur tersebut tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Karena warisan leluhur bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijaga, dirawat, dan dilestarikan.
PEMERINTAHAN DESA TARO — MENOLAK KORUPSI, MENJUNJUNG NILAI BUDAYA, DAN MEMBANGUN DESA DENGAN TANGGUNG JAWAB.