Suasana penuh kebersamaan dan semangat membangun desa terasa hangat di Balai Wantilan Taro Kaja pada Jumat, 22 Mei 2026. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Taro melaksanakan kegiatan Penyerapan Aspirasi Masyarakat Desa Taro yang dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat dari seluruh wilayah Desa Taro.

Kegiatan yang dimulai pukul 17.00 WITA tersebut dibuka langsung oleh Ketua BPD Taro, I Wayan Suardika, SH., MH., bersama jajaran anggota BPD Taro. Forum ini menjadi momentum penting dalam menyatukan berbagai suara, harapan, gagasan, serta kebutuhan masyarakat demi arah pembangunan Desa Taro yang lebih maju, berbudaya, dan berkelanjutan.

Berbeda dengan pola sebelumnya yang dilakukan secara terpisah di masing-masing banjar, kali ini penyerapan aspirasi dilaksanakan secara terpusat di satu titik, yaitu Wantilan Pura Agung Gunung Raung Desa Adat Taro Kaja. Model terpadu ini dinilai lebih efektif karena mampu mempertemukan seluruh unsur masyarakat dalam satu ruang dialog bersama.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 14 banjar se-Desa Taro, meliputi unsur pendidikan, tokoh agama, pemuda, seni budaya, olahraga, pertanian, peternakan, pariwisata, kesehatan, perempuan, UMKM, mahasiswa, pengrajin, hingga pegiat media sosial.

Dalam sambutannya, Ketua BPD Taro menegaskan bahwa forum aspirasi bukan hanya sekadar agenda formal tahunan, melainkan ruang demokrasi desa yang menjadi pondasi pembangunan partisipatif. Seluruh aspirasi masyarakat dicatat sebagai bahan penting dalam penyusunan kebijakan dan arah pembangunan desa ke depan.

Bidang pendidikan menjadi salah satu perhatian utama dalam forum tersebut. Perwakilan pendidikan dari Lokantara Taro Kelod menyampaikan pentingnya penyediaan ruang bimbingan belajar bagi anak-anak yang masih mengalami kesulitan membaca. Selain itu, masyarakat juga mengusulkan adanya program beasiswa desa bagi anak-anak berprestasi dari keluarga kurang mampu agar memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik.

Dari unsur tokoh agama, perwakilan Jero Mangku dari Banjar Patas menyoroti perubahan pola pelaksanaan kegiatan keagamaan yang dinilai semakin instan. Beliau berharap nilai-nilai spiritual dan filosofi yadnya tetap dijaga agar budaya Bali tidak kehilangan makna sakralnya di tengah perkembangan zaman.

Kelompok pemuda melalui perwakilan dari Taro Kaja menyampaikan perlunya peningkatan sarana dan prasarana olahraga, sekaligus mendorong lebih banyak event kepemudaan dan perlombaan antarwilayah. Selain itu, pemuda juga mengusulkan agar desa mampu memfasilitasi kegiatan seni kreatif seperti parade ogoh-ogoh sebagai wadah ekspresi generasi muda sekaligus pelestarian budaya Bali.

Di bidang olahraga, perwakilan Banjar Patas menyampaikan kebutuhan fasilitas olahraga yang lebih memadai, mengingat tingginya aktivitas olahraga masyarakat dan sekolah di Desa Taro. Fasilitas seperti meja tenis meja hingga perlengkapan olahraga lainnya dinilai penting untuk menunjang pembinaan generasi muda.

Sementara itu, bidang seni budaya menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian besar dalam forum tersebut. Perwakilan seni dari Banjar Tatag Sutarma menyampaikan harapan agar pentas seni tradisional seperti drama gong kembali dihidupkan di masing-masing desa adat. Selain itu, seni tabuh dan sekaa gong diharapkan dapat kembali dibangkitkan sebagai bagian dari regenerasi budaya dan penguatan tradisi ngayah dalam pelaksanaan yadnya.

Masih dalam bidang seni, Jero Dalang dari Banjar Ked menyoroti pentingnya pembentukan wadah baru kesenian berbasis desa yang lebih aktif dan terstruktur. Ia menilai optimalisasi tupoksi lembaga seni seperti Listibya perlu diperjelas agar mampu menjadi motor koordinasi dan pembinaan kesenian desa secara maksimal. Terlebih, Desa Taro direncanakan menjadi duta Kecamatan Tegallalang dalam pawai budaya tingkat Kabupaten Gianyar pada tahun mendatang.

Bidang pertanian dan peternakan turut menyampaikan berbagai persoalan strategis. Perwakilan dari Banjar Dinas Tebuana mengusulkan peningkatan bantuan sarana pertanian seperti traktor, sabit, cangkul, serta dukungan pembibitan tanaman seperti kopi, durian, dan jahe yang selama ini sering mengalami kendala gagal panen. Selain bantuan produksi, masyarakat juga berharap desa mampu membantu akses pemasaran hasil pertanian masyarakat.

Perwakilan Banjar Let juga menyoroti persoalan limbah peternakan dan kebutuhan akses jalan produksi menuju lahan pertanian. Usulan pengembangan program biogas bekerja sama dengan instansi lingkungan hidup dinilai menjadi solusi penting untuk mengurangi pencemaran sekaligus mendukung energi ramah lingkungan di Desa Taro.

Di bidang akademik, perwakilan mahasiswa dari Banjar Ked menyampaikan harapan agar generasi muda memperoleh bimbingan lebih besar dalam pengembangan potensi desa. Permasalahan pengelolaan sampah plastik di Banjar Ked serta penggalian potensi wisata baru menjadi perhatian utama yang diharapkan dapat dikembangkan bersama.

Dari sektor kerajinan, Ketut Kerepun dari Taro Kaja menyampaikan pentingnya perlindungan hak cipta terhadap inovasi lokal seperti Paras Taro dan Cat Taro yang selama ini menjadi identitas khas desa.

Bidang pariwisata juga melahirkan berbagai gagasan strategis. Perwakilan Banjar Belong menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta pengembangan jalur khusus wisata cycling yang dapat memberikan kontribusi ekonomi bagi desa. Selain itu, masyarakat mengusulkan adanya kalender event budaya sebagai media promosi wisata berbasis budaya lokal.

Pelaku usaha pariwisata lainnya juga menyoroti persoalan perizinan pembangunan usaha di kawasan hijau, serta pentingnya media promosi terpadu yang mampu mewadahi seluruh potensi wisata Desa Taro dalam satu platform resmi.

Dari unsur perempuan dan kesehatan, masyarakat mengusulkan peningkatan pelayanan kesehatan rutin khususnya bagi lansia, serta penguatan program pencegahan stunting melalui edukasi nutrisi ibu hamil dan optimalisasi kegiatan posyandu.

Sementara itu, unsur Rumah Tangga Miskin (RTM) berharap program bedah rumah dan pembangunan toilet tetap menjadi prioritas desa. Selain itu, masyarakat juga mengusulkan program pendidikan gratis hingga jenjang sarjana atau diploma bagi keluarga kurang mampu agar tercipta pemerataan kesempatan pendidikan.

Menariknya, bidang pegiat media sosial juga turut menyampaikan aspirasi visioner terkait transformasi digital desa. Perwakilan dari Taro Kelod mengusulkan pengembangan website resmi desa dan BPD yang terintegrasi dengan media sosial sebagai pusat informasi, pengaduan, serta penyampaian aspirasi masyarakat secara digital. Selain itu, diusulkan pula agar masing-masing banjar dinas maupun desa adat memiliki media resmi yang dikelola secara profesional untuk mendukung transparansi informasi dan edukasi bermedia sosial yang bijak kepada masyarakat.

Melalui forum ini, Desa Taro menunjukkan semangat demokrasi partisipatif yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Penyerapan aspirasi bukan hanya menjadi wadah penyampaian keluhan, namun juga ruang lahirnya gagasan-gagasan besar demi masa depan Desa Taro yang maju, mandiri, berbudaya, dan berkelanjutan.