TARO, TEGALLALANG — Pemerintahan Desa Taro melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Agung Gunung Raung Taro, Kamis, 1 Oktober 2026, bertepatan dengan rangkaian Piodalan Buda Kliwon Ugu. Kegiatan ini menjadi momentum spiritual bagi unsur Pemerintahan Desa Taro untuk bersama-sama memanjatkan doa sekaligus mempererat kebersamaan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

Persembahyangan bersama tersebut dilaksanakan mulai pukul 11.00 WITA hingga selesai, dengan mengenakan pakaian adat Bali. Kegiatan diikuti oleh unsur kelembagaan dan perangkat yang berada dalam lingkup Desa Taro.
Berdasarkan surat undangan Pemerintahan Desa Taro Nomor 400.10/177/PTR/IX/2026, tertanggal 29 September 2026, peserta yang diundang meliputi Ketua dan Anggota BPD Taro, Perangkat dan Staf Desa Taro, Kelihan Banjar Dinas se-Desa Taro, Direktur dan Staf BUMDes Sarwada Amerta Taro, serta Ketua dan Pengurus KDMP Taro.

Menyatukan Langkah dalam Suasana Piodalan
Persembahyangan bersama tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan bagi berbagai unsur yang memiliki peran dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Desa Taro.
Di tengah aktivitas pemerintahan dan pelayanan masyarakat yang berlangsung setiap hari, kegiatan persembahyangan bersama memberikan ruang untuk sejenak menenangkan pikiran, membangun kebersamaan, serta memanjatkan doa agar setiap tugas dan tanggung jawab yang dijalankan dapat berlangsung dengan baik.
Kehadiran unsur Pemerintahan Desa Taro bersama BPD, para Kelihan Banjar Dinas, pengelola BUMDes Sarwada Amerta, hingga pengurus KDMP menunjukkan bahwa kehidupan pemerintahan desa tidak berdiri sendiri. Ada kebersamaan, koordinasi, serta keterhubungan antara unsur pemerintahan, kelembagaan, dan masyarakat dalam menjalankan roda pembangunan desa.

Bertepatan dengan Piodalan Buda Kliwon Ugu
Pura Agung Gunung Raung Taro menjadi tempat pelaksanaan persembahyangan bersama dalam momentum Piodalan Buda Kliwon Ugu.
Bagi masyarakat Taro, keberadaan pura dan berbagai rangkaian upacara keagamaan menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Momentum piodalan juga menghadirkan suasana kebersamaan, ketika masyarakat dan berbagai unsur di Desa Taro mengambil bagian sesuai dengan peran masing-masing.
Dalam konteks pemerintahan desa, kehadiran bersama dalam persembahyangan menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara pelaksanaan tugas pemerintahan dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Spiritualitas dalam Pengabdian
Persembahyangan bersama tersebut juga dapat dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa tugas pemerintahan pada hakikatnya berkaitan erat dengan pelayanan kepada masyarakat.
Setiap pekerjaan, keputusan, pelayanan administrasi, pembangunan, maupun program pemberdayaan masyarakat membutuhkan tanggung jawab dan kebersamaan. Karena itu, ruang spiritual seperti persembahyangan bersama menjadi kesempatan untuk memperkuat kebersamaan sebelum kembali menjalankan berbagai agenda pemerintahan dan pelayanan publik.
Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan, menyatukan unsur Pemerintahan Desa Taro dan kelembagaan desa dalam satu momentum persembahyangan di tengah rangkaian Piodalan Buda Kliwon Ugu di Pura Agung Gunung Raung Taro.
Lebih dari sekadar agenda seremonial, persembahyangan bersama ini menjadi bagian dari dinamika kehidupan Desa Taro—ketika pemerintahan, kebersamaan, tradisi, dan kehidupan spiritual masyarakat berjalan berdampingan.
Pemerintahan Desa Taro terus menempatkan kebersamaan sebagai salah satu bagian penting dalam menjalankan pelayanan dan pembangunan desa, dengan tetap menghormati serta menjaga nilai-nilai sosial, budaya, dan adat yang hidup di tengah masyarakat.