Taro, 8 Juli 2026 – Pemerintah Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, menyelenggarakan Sosialisasi Adaptasi Dampak Perubahan Iklim sebagai upaya meningkatkan pemahaman, kesiapsiagaan, dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Kantor Desa Taro pada Rabu (8/7/2026) mulai pukul 09.00 WITA hingga selesai, sesuai dengan Surat Undangan Nomor 400.10/132/PEL/VII/2026 tanggal 1 Juli 2026 yang diterbitkan oleh Pemerintah Desa Taro.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Desa Taro dalam mendukung pembangunan desa yang tangguh terhadap perubahan iklim sekaligus mewujudkan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan melalui peningkatan pengetahuan dan partisipasi masyarakat.
Acara dihadiri oleh unsur Kelihan Banjar Dinas se-Desa Taro, Pekaseh se-Desa Taro, Kelihan Subak se-Desa Taro, Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Taro, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur strategis lainnya yang memiliki peran penting dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup di wilayah Desa Taro.
Perubahan Iklim Menjadi Tantangan Nyata bagi Desa
Dalam sambutannya, Perbekel Desa Taro, I Wayan Warka, menyampaikan bahwa perubahan iklim telah menjadi isu global yang dampaknya dirasakan hingga ke tingkat desa. Perubahan pola curah hujan, meningkatnya suhu udara, berkurangnya ketersediaan air bersih, ancaman terhadap sektor pertanian, hingga meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Beliau menegaskan bahwa keberhasilan adaptasi terhadap perubahan iklim tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif seluruh komponen masyarakat, khususnya para pemangku kepentingan di tingkat desa yang memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

“Perubahan iklim merupakan tantangan bersama yang memerlukan kesadaran kolektif serta tindakan nyata. Pemerintah Desa Taro berkomitmen membangun desa yang tangguh terhadap perubahan iklim melalui peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan desa, serta pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal.”
Hadirkan Narasumber Berkompeten
Sebagai bentuk penguatan substansi materi, kegiatan menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan hewan, lingkungan hidup, dan adaptasi perubahan iklim.
Materi pertama disampaikan oleh drh. I Gusti Ngurah Dibyaprasesa, yang menguraikan berbagai dampak perubahan iklim terhadap kehidupan masyarakat, sektor pertanian, peternakan, kesehatan masyarakat, serta ketahanan pangan. Dalam paparannya dijelaskan bahwa perubahan suhu, perubahan pola musim, serta meningkatnya intensitas cuaca ekstrem berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian, kesehatan ternak, ketersediaan sumber daya air, hingga meningkatkan risiko munculnya penyakit yang dipengaruhi faktor lingkungan.
Beliau juga menekankan pentingnya membangun kemampuan adaptasi masyarakat melalui pengelolaan lingkungan yang baik, konservasi sumber daya alam, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, serta penguatan sistem ketahanan pangan berbasis potensi lokal.

Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Dewa Ayu Ratih dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang menjelaskan berbagai strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dari perspektif pengelolaan lingkungan hidup. Dalam pemaparannya disampaikan bahwa perubahan iklim memerlukan respons terpadu melalui pengurangan emisi gas rumah kaca, pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pelestarian kawasan resapan air, penghijauan, perlindungan sumber mata air, serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem.
Selain memberikan pemahaman mengenai kondisi perubahan iklim saat ini, narasumber juga mengajak masyarakat untuk menerapkan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, melakukan penanaman pohon, menghemat penggunaan energi dan air, serta menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan rendah karbon.
Mendorong Desa Tangguh Iklim
Sosialisasi ini menjadi forum strategis bagi Pemerintah Desa Taro dalam membangun sinergi antara pemerintah desa, lembaga adat, kelompok tani, subak, dan masyarakat untuk menyusun langkah-langkah adaptasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah Desa Taro.
Melalui diskusi interaktif, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi di wilayah masing-masing, termasuk perubahan pola musim tanam, pengelolaan sumber daya air, konservasi lahan pertanian, serta upaya menjaga keberlanjutan ekosistem desa.
Hasil diskusi diharapkan menjadi dasar dalam memperkuat perencanaan pembangunan desa yang memperhatikan aspek ketahanan iklim, konservasi lingkungan, dan pengurangan risiko bencana.

Sejalan dengan Kebijakan Nasional
Penyelenggaraan Sosialisasi Adaptasi Dampak Perubahan Iklim sejalan dengan berbagai regulasi nasional, di antaranya:
- Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana telah diubah melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023;
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa beserta peraturan pelaksanaannya;
- Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon;
- Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API);
- serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs Desa), khususnya tujuan Desa Peduli Lingkungan, Penanganan Perubahan Iklim, Air Bersih dan Sanitasi Layak, serta Ekosistem Daratan.
Melalui regulasi tersebut, pemerintah mendorong seluruh daerah, termasuk pemerintah desa, untuk mengintegrasikan aspek adaptasi dan mitigasi perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan desa secara berkelanjutan.
Komitmen Bersama Menjaga Kelestarian Lingkungan
Melalui pelaksanaan sosialisasi ini, Pemerintah Desa Taro berharap seluruh unsur masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai fondasi utama keberlanjutan pembangunan desa.
Kolaborasi antara pemerintah, lembaga adat, subak, kelompok tani, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun desa yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dengan semangat gotong royong dan kepedulian bersama, Desa Taro berkomitmen menjadi desa yang tangguh terhadap perubahan iklim, mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan, serta memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.