TARO, TEGALLALANG — Pemerintahan Desa Taro menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Tutor Pasraman Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat kapasitas tenaga pengajar pasraman dalam melestarikan bahasa, sastra, dan tradisi keagamaan Hindu di tengah masyarakat. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat (9 Oktober 2026), mulai pukul 09.00 WITA, bertempat di Ruang Rapat Kantor Perbekel Taro.

Pembinaan dibuka oleh Kasi Pelayanan Desa Taro, I Wayan Supartha, didampingi Staf Kasi Pelayanan, I Kadek Birawan. Kegiatan ini diikuti oleh para tutor pasraman se-Desa Taro, dengan undangan dua orang dari masing-masing banjar, sebagaimana tercantum dalam surat undangan Pemerintahan Desa Taro Nomor 400.10/180/PEL/X/2026 tertanggal 5 Oktober 2026.

Hadir sebagai narasumber, I Wayan Suarmaja, S.Pd.B., M.Pd. dan I Putu Hendrayana, S.Pd., dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. Pembinaan berfokus pada dua materi utama, yakni anggah-ungguhin basa Bali dan Dharma Gita, yang memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan identitas budaya serta nilai-nilai luhur masyarakat Bali.

Anggah-Ungguhin Basa Bali Menanamkan Etika melalui Bahasa

Bahasa bukan sekadar sarana komunikasi, tetapi juga mencerminkan karakter, tata krama, dan penghormatan terhadap orang lain. Dalam kebudayaan Bali, pemahaman terhadap anggah-ungguhin basa Bali menjadi bagian penting dari kemampuan berbahasa yang santun dan sesuai dengan konteks komunikasi.

Anggah-ungguhin basa Bali berkaitan dengan tata penggunaan bahasa berdasarkan tingkat tutur, situasi, serta hubungan antara pembicara dan lawan bicara. Penguasaan aspek ini membantu membangun komunikasi yang tepat, menghargai lawan bicara, sekaligus menjaga nilai kesopanan yang menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Bali.

Bagi tutor pasraman, pemahaman tersebut merupakan bekal penting dalam mendampingi peserta didik. Pembelajaran bahasa Bali diharapkan tidak berhenti pada penguasaan kosakata dan tata bahasa, tetapi juga mampu menanamkan nilai etika, rasa hormat, serta kebanggaan terhadap bahasa daerah sebagai identitas budaya.

Di tengah perkembangan zaman dan perubahan pola komunikasi generasi muda, penguatan pemahaman bahasa Bali menjadi semakin relevan. Upaya ini diperlukan agar bahasa Bali tetap digunakan, dipahami, dan diwariskan secara baik kepada generasi berikutnya.

Dharma Gita: Menjaga Warisan Keagamaan dan Spiritual

Selain anggah-ungguhin basa Bali, pembinaan juga menitikberatkan pada Dharma Gita, bagian penting dari tradisi keagamaan Hindu yang berkaitan dengan lantunan atau nyanyian suci dalam pelaksanaan kehidupan beragama.

Dharma Gita tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melantunkan nyanyian suci, tetapi juga membutuhkan ketekunan dalam mempelajari pelafalan, irama, dan penghayatan sesuai tradisi yang diwariskan. Melalui pembelajaran yang berkelanjutan, Dharma Gita menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan umat pada nilai-nilai dharma sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi keagamaan Hindu.

Dalam konteks pendidikan pasraman, tutor memiliki peran strategis untuk memperkenalkan dan meneruskan pengetahuan tersebut kepada generasi muda. Dengan demikian, tradisi tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga terus dipraktikkan dan dipahami maknanya dalam kehidupan masyarakat.

Kehadiran narasumber dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengetahuan para tutor agar pembelajaran bahasa dan tradisi keagamaan dapat terus dikembangkan di lingkungan pasraman.

Tutor Pasraman sebagai Penggerak Pelestarian Budaya

Tutor pasraman memiliki posisi penting dalam proses pewarisan pengetahuan keagamaan, bahasa, dan kebudayaan kepada generasi muda. Peran tersebut membutuhkan penguasaan materi, kemampuan menyampaikan pembelajaran, serta keteladanan dalam menerapkan nilai-nilai yang diajarkan.

Karena itu, pembinaan tutor menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan pasraman di tingkat desa. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di masing-masing banjar sehingga manfaat pembinaan menjangkau lebih banyak peserta didik.

Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, keluarga, hingga masyarakat. Bahasa Bali yang santun dan tradisi Dharma Gita yang terus dipelajari merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dirawat melalui pendidikan, praktik, dan keteladanan.

Melalui Pembinaan Tutor Pasraman Tahun 2026, Pemerintahan Desa Taro menegaskan pentingnya penguatan kapasitas tutor sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi, bahasa, dan nilai-nilai luhur masyarakat Bali.

Pada akhirnya, menjaga kebudayaan bukan hanya tentang mempertahankan warisan leluhur, melainkan juga memastikan bahwa generasi penerus mampu memahami, menghargai, dan meneruskannya dengan baik. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, pasraman diharapkan tetap menjadi ruang penting bagi pendidikan karakter, penguatan spiritualitas, dan pelestarian identitas budaya Bali.

Pemerintahan Desa Taro

Melestarikan budaya, memperkuat karakter, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang.