TARO, 24 Agustus 2026 — Rangkaian pengabdian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode IX Universitas Bali Internasional (UNBI) di Desa Taro resmi berakhir. Penarikan sekaligus penutupan KKN-PPM berlangsung pada Senin, 24 Agustus 2026, mulai pukul 09.30 WITA hingga selesai, bertempat di Ruang Rapat Kantor Desa Taro.
Kegiatan penarikan tersebut menjadi momentum penting yang mempertemukan mahasiswa KKN-PPM UNBI, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Pemerintah Desa Taro, unsur kelembagaan desa, aparat keamanan, serta berbagai elemen masyarakat yang selama pelaksanaan KKN turut menjadi bagian dari proses pembelajaran dan pemberdayaan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Perbekel Taro I Wayan Warka, perwakilan BPD Taro yang diwakili Wakil Ketua BPD Taro, DPL I Gusti Ngurah Agung Windra Wartana Putra, S.Farm., Apt., M.Sc., Koordinator Desa KKN-PPM UNBI I Putu Jhordy Indrawan, seluruh mahasiswa KKN-PPM UNBI, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta seluruh perangkat Pemerintah Desa Taro, termasuk seluruh Kelihan Banjar Dinas se-Desa Taro.
Selain itu, kegiatan juga melibatkan dan mengundang berbagai unsur masyarakat yang selama pelaksanaan program menjadi bagian dari kolaborasi mahasiswa, di antaranya LPM, BUMDes, pelaku UMKM, kader kesehatan, Kelompok Wanita Tani (KWT), Pustu Kesehatan, serta unsur masyarakat lainnya.

Dibuka dengan Prakata dan Moderasi Mahasiswa
Rangkaian kegiatan diawali dengan prakata dan moderasi oleh mahasiswa KKN-PPM UNBI selaku pembawa acara. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Perbekel Taro I Wayan Warka.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Desa Taro memberikan apresiasi terhadap kehadiran dan kontribusi mahasiswa selama menjalankan program KKN di Desa Taro. Kehadiran mahasiswa dipandang bukan semata-mata sebagai pelaksanaan kewajiban akademik, tetapi juga sebagai ruang bertemunya pengetahuan perguruan tinggi dengan realitas dan potensi yang ada di masyarakat.

Selanjutnya, DPL I Gusti Ngurah Agung Windra Wartana Putra, S.Farm., Apt., M.Sc. menyampaikan sambutan sekaligus memberikan penguatan terhadap makna pelaksanaan KKN sebagai proses pembelajaran yang menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses pemberdayaan.
Rangkaian berikutnya diisi dengan sambutan sekaligus laporan Koordinator Desa KKN-PPM UNBI, I Putu Jhordy Indrawan, yang menyampaikan berbagai kegiatan dan program yang telah dilaksanakan mahasiswa selama berada di Desa Taro.

Laporan tersebut sekaligus menjadi refleksi atas perjalanan mahasiswa selama menjalankan KKN, mulai dari proses beradaptasi dengan lingkungan masyarakat, membangun komunikasi dengan berbagai unsur desa, hingga melaksanakan program-program yang dirancang berdasarkan kebutuhan dan potensi masyarakat.

Manjahera, Ketika Jahe Merah Lokal Menjadi Bagian dari Cerita Pengabdian
Salah satu kegiatan yang memberikan warna tersendiri dalam rangkaian penutupan KKN-PPM tersebut adalah pengenalan dan demonstrasi Manjahera — Minuman Jahe Merah.
Manjahera merupakan produk berbahan baku jahe merah yang dikembangkan dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki masyarakat Desa Taro, termasuk bahan baku yang berasal dari petani, pelaku UMKM maupun masyarakat Desa Taro.
Produk tersebut diperkenalkan bukan hanya sebagai sebuah hasil olahan, tetapi juga sebagai contoh bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah.

Dalam kegiatan tersebut, DPL I Gusti Ngurah Agung Windra Wartana Putra, S.Farm., Apt., M.Sc., turut memberikan penjelasan mengenai jahe merah, termasuk kandungan yang terdapat di dalamnya seperti gingerol, shogaol, zingerol, flavonoid, antosianin, dan minyak atsiri.
Materi yang disampaikan juga membahas berbagai manfaat jahe merah, antara lain berkaitan dengan imunitas, nyeri, pencernaan, pengendalian gula dan kolesterol, serta memberikan sensasi hangat bagi tubuh.
Penyampaian materi tersebut menjadi bagian edukatif dalam kegiatan, sekaligus memberikan wawasan kepada peserta mengenai potensi jahe merah sebagai bahan pangan yang dapat diolah dan dikembangkan lebih lanjut.
Mahasiswa Berkolaborasi dengan KWT Desa Taro
Tidak berhenti pada pemaparan materi, mahasiswa kemudian melakukan demonstrasi secara langsung proses pembuatan Manjahera.

Menariknya, proses pengolahan tersebut dilakukan melalui kolaborasi mahasiswa KKN-PPM UNBI dengan ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Taro.
Kolaborasi ini menjadi salah satu gambaran nyata semangat pemberdayaan dalam pelaksanaan KKN. Mahasiswa membawa pengetahuan, gagasan, dan metode pengolahan, sementara masyarakat—khususnya KWT—terlibat secara langsung dalam proses praktik.
Bahan baku utama berupa jahe merah yang merupakan potensi masyarakat Desa Taro diolah melalui proses yang diperagakan mahasiswa sehingga peserta dapat melihat secara langsung bagaimana bahan lokal dapat dikembangkan menjadi produk olahan.
Dari proses tersebut, muncul sebuah pesan sederhana namun penting: pemberdayaan bukan sekadar memberikan pengetahuan kepada masyarakat, melainkan menciptakan ruang agar pengetahuan tersebut dapat dipraktikkan, dikembangkan, dan diteruskan bersama masyarakat.
Pretest dan Posttest, Mengukur Pemahaman Peserta
Untuk memperkuat aspek edukasi, mahasiswa juga melaksanakan pretest dan posttest kepada para hadirin terkait materi pembuatan jamu dan pemanfaatan jahe merah.
Pretest diberikan untuk mengetahui tingkat pemahaman awal peserta. Materi pertanyaan mencakup pengertian jamu, kandungan jahe merah, bagian tanaman yang digunakan, senyawa yang memberikan karakteristik rasa pedas, manfaat jahe merah, proses penyaringan, faktor yang memengaruhi cita rasa jamu, hingga pentingnya ketepatan takaran bahan.
Setelah materi diberikan dan demonstrasi pembuatan Manjahera selesai, peserta kembali mengikuti posttest.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga dirancang dengan pendekatan pembelajaran—mulai dari mengetahui pemahaman awal, memberikan materi, melakukan praktik, hingga mengevaluasi kembali pemahaman peserta.
Penarikan Sekaligus Penutupan KKN-PPM
Setelah seluruh rangkaian kegiatan berlangsung, acara memasuki agenda inti berupa penarikan sekaligus penutupan KKN-PPM Periode IX Universitas Bali Internasional di Desa Taro.
Penarikan tersebut menjadi tanda berakhirnya masa pengabdian mahasiswa secara resmi di Desa Taro.
Namun, penutupan KKN bukan berarti berakhirnya seluruh cerita yang telah terbentuk. Selama berada di tengah masyarakat, mahasiswa telah memperoleh pengalaman yang tidak selalu dapat ditemukan di ruang perkuliahan.
Desa menjadi ruang belajar yang mempertemukan teori dengan praktik. Mahasiswa belajar memahami karakter masyarakat, mengenali potensi lokal, membangun komunikasi, bekerja sama dengan berbagai unsur, serta mengembangkan program berdasarkan kebutuhan dan kondisi nyata di lapangan.
Di sisi lain, masyarakat juga memperoleh ruang untuk berbagi pengalaman, pengetahuan lokal, serta potensi yang dimiliki kepada generasi muda dari lingkungan perguruan tinggi.
Meninggalkan Jejak, Bukan Sekadar Kenangan
Kehadiran Manjahera dalam rangkaian penutupan KKN menjadi simbol kecil dari sebuah proses yang lebih besar.
Jahe merah yang tumbuh dari potensi masyarakat Desa Taro, pengetahuan yang dibawa mahasiswa, pengalaman DPL, serta keterlibatan KWT dalam proses pengolahan bertemu dalam satu ruang pembelajaran.
Dari sana lahir sebuah pengalaman bahwa potensi desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, sebuah gagasan sederhana—seperti mengolah jahe merah menjadi minuman—dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kreativitas, nilai tambah, dan semangat pemberdayaan.
Karena itu, Manjahera tidak hanya hadir sebagai sebuah produk minuman jahe merah. Ia menjadi salah satu warna dalam perjalanan pengabdian mahasiswa KKN-PPM UNBI di Desa Taro.
Pada akhirnya, mahasiswa kembali melanjutkan perjalanan akademik mereka. Akan tetapi, pengalaman selama berada di Desa Taro, interaksi bersama masyarakat, program yang telah dijalankan, serta kolaborasi yang telah terbangun diharapkan menjadi bekal berharga dalam perjalanan mereka ke depan.
KKN-PPM Periode IX UNBI telah resmi ditutup di Desa Taro. Mahasiswa boleh kembali, tetapi jejak pengabdian, pengetahuan, kolaborasi, dan cerita yang telah tercipta akan tetap menjadi bagian dari perjalanan Desa Taro dan para mahasiswa yang pernah mengabdi di dalamnya.
Manjahera menjadi salah satu warnanya. Pengabdian menjadi ceritanya. Dan Desa Taro menjadi bagian dari jejak perjalanan mereka.