Taro, Gianyar – Suasana spiritual yang penuh khidmat kembali menyelimuti Desa Taro pada Rahina Sukra Kliwon Uwudan, Jumat (17 Juli 2026), ketika Ida Ratu Anom Taro melaksanakan prosesi suci Ngelawang (Ngelungang) sebagai bagian dari tradisi sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat adat Taro. Prosesi dimulai sejak pukul 07.00 WITA dan berlangsung hingga selesai dengan iringan ribuan umat Hindu yang datang dari berbagai penjuru Amunduk Taro maupun daerah sekitarnya.
Pada pelaksanaan kali ini, Ida Ratu Anom Taro memargi saking menuju sejumlah Desa Adat (Desa Pakraman), yakni Desa Adat Mawang, Desa Adat Banua, Desa Adat Pisang Kaja, Desa Adat Pisang Kelod, Desa Adat Jati, dan Desa Adat Tegal Suci. Di setiap desa yang disinggahi, ribuan pamedek telah menanti untuk menghaturkan sembah bhakti, memohon kerahayuan, serta menerima wara nugraha dalam suasana yang penuh kekhusyukan dan kebersamaan.

Sepanjang perjalanan suci tersebut, masyarakat memadati jalur yang dilalui rombongan Ida Sesuhunan. Antusiasme umat yang begitu besar menyebabkan arus lalu lintas di beberapa ruas jalan mengalami perlambatan. Namun demikian, seluruh rangkaian prosesi tetap berlangsung tertib, aman, dan lancar berkat sinergi antara prajuru desa adat, pecalang, panitia, aparat keamanan, serta masyarakat yang bersama-sama menjaga ketertiban jalannya upacara.
Bagi masyarakat adat Taro dan para pamedek, Ida Ratu Anom Taro diyakini sebagai manifestasi Dewa Wisnu, yakni aspek Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Pemelihara dalam konsep Tri Murti. Dalam tradisi spiritual yang hidup dan diwariskan secara turun-temurun di Desa Taro, manifestasi tersebut diwujudkan melalui Barong Bangkal, yang dipercaya memiliki keterkaitan dengan Awatara Varaha, yaitu penjelmaan Dewa Wisnu dalam wujud babi hutan yang melambangkan kekuatan suci untuk melindungi, memelihara, serta mengembalikan keseimbangan alam semesta (jagad hita). Oleh sebab itu, prosesi Ngelawang tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan suci dari satu desa adat ke desa adat lainnya, tetapi juga sebagai simbol kehadiran kasih sayang, perlindungan, dan pemeliharaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada umat melalui manifestasi Ida Ratu Anom Taro.

Secara etimologis, kata “Anom” dalam bahasa Bali maupun Jawa Kuno berarti muda, belia, atau generasi penerus. Namun, dalam kearifan lokal masyarakat Taro, makna tersebut berkembang menjadi filosofi yang lebih mendalam. Anom dimaknai sebagai lambang semangat kehidupan yang senantiasa diperbarui, energi yang tidak pernah padam, harapan yang terus tumbuh, serta regenerasi yang menjaga keberlangsungan dharma, adat, budaya, dan spiritualitas. Filosofi inilah yang menjadikan Ida Ratu Anom memiliki kedekatan yang sangat kuat dengan generasi muda, sebagai inspirasi untuk tetap menjaga nilai-nilai luhur warisan leluhur di tengah perkembangan zaman.
Umat juga meyakini bahwa Ida Ratu Anom Taro merupakan pelindung, penyayang, sekaligus pemberi anugerah kepada setiap umat yang menghaturkan bhakti dengan tulus. Kehadiran Beliau dipercaya senantiasa melimpahkan wara nugraha, keselamatan, kesehatan, kesejahteraan, keharmonisan, serta taksu, yaitu pancaran kewibawaan, karisma, kekuatan batin, dan daya spiritual yang menjadi sumber inspirasi dalam menjalankan swadharma, pengabdian, maupun kehidupan sehari-hari. Dalam pemahaman masyarakat Bali, taksu bukan sekadar pesona lahiriah, melainkan anugerah suci yang lahir dari keselarasan antara bhakti, ketulusan hati, dan restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Prosesi Ngelawang juga menjadi momentum mempererat hubungan spiritual antar-desa adat sekaligus memperkokoh semangat ngayah dan persaudaraan di antara umat Hindu. Ribuan pamedek yang mengiringi perjalanan suci Ida Ratu Anom Taro mencerminkan kokohnya sraddha dan bhakti masyarakat terhadap tradisi leluhur yang terus hidup dan berkembang hingga saat ini. Nilai-nilai kebersamaan yang terbangun dalam prosesi tersebut menjadi cerminan nyata implementasi filosofi Tri Hita Karana, yakni keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam lingkungan (Palemahan).
Pemerintah Desa Taro menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh prajuru desa adat, pecalang, panitia, aparat keamanan, relawan, serta seluruh masyarakat yang telah bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan kelancaran prosesi. Sinergi seluruh komponen masyarakat menjadi bukti nyata komitmen bersama dalam melestarikan warisan adat, budaya, dan spiritualitas Bali sebagai identitas luhur yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Melalui pelaksanaan Prosesi Ngelawang Ida Ratu Anom Taro, diharapkan nilai-nilai sraddha, bhakti, ngayah, dan kebersamaan semakin tumbuh di tengah kehidupan masyarakat. Tradisi suci ini bukan hanya menjadi bagian dari kekayaan budaya Bali, tetapi juga menjadi media penguatan spiritual yang diyakini membawa kerahayuan jagat, keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, serta keberkahan bagi seluruh umat dan alam semesta.

“Sarve Bhavantu Sukhinah, Sarve Santu Nir?may??, Sarve Bhadr??i Pa?yantu, M? Ka?cid Du?kha Bh?g Bhavet.”
“Semoga semua makhluk hidup berbahagia, semoga semua terbebas dari penyakit, semoga semua memperoleh kebaikan, dan semoga tidak seorang pun mengalami penderitaan.”