TARO, GIANYAR – Guyuran hujan deras yang berlangsung sepanjang malam, sejak Minggu sore, 1 November hingga Senin pagi, 2 November 2026, mengakibatkan jalan pertanian di jalur Pemedal Agung menuju Pura Dalem Pingit, kawasan Taro Kaja, mengalami keruntuhan. Kondisi tanah kawasan persawahan yang relatif labil, ditambah intensitas hujan yang tinggi dan berlangsung dalam waktu panjang, menyebabkan struktur tanah di sekitar badan jalan kehilangan kestabilannya.

Jalan tersebut sebelumnya dibangun melalui pengerjaan secara swakelola dengan pembiayaan dari Desa Adat Taro Kaja. Pembangunan ini merupakan bentuk partisipasi masyarakat adat dalam mendukung ketersediaan akses menuju kawasan pertanian serta menunjang aktivitas warga.

Setelah diguyur hujan deras sepanjang malam, bagian tanah yang menopang badan jalan mengalami keruntuhan. Dokumentasi kondisi di lapangan memperlihatkan tanah terlepas dan ambles, membentuk rongga cukup besar di bawah struktur beton. Sejumlah bagian dinding beton mengalami retakan, sementara material tanah dan batuan runtuh serta menumpuk di bagian bawah. Pipa yang melintas di sekitar lokasi juga terlihat terbuka akibat pergeseran tanah.

Guyuran hujan dalam durasi panjang menyebabkan air meresap dan meningkatkan kejenuhan tanah. Pada kawasan dengan karakteristik tanah yang relatif labil, kondisi tersebut dapat menurunkan kekuatan geser tanah dan memicu pergerakan massa tanah. Akibatnya, struktur yang kehilangan dukungan tanah di bawahnya menjadi rentan mengalami keruntuhan.

Penguatan Pondasi Menjadi Prioritas Perbaikan

Kondisi kerusakan ini menjadi perhatian penting dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya. Perbaikan ke depan perlu dilakukan secara menyeluruh dengan mengutamakan kestabilan tanah dasar dan kekuatan struktur penopang, bukan sekadar menimbun kembali tanah atau mengecor bagian yang rusak.

Penggunaan pondasi pasangan batu kali atau pondasi beton bertulang dapat dipertimbangkan sesuai hasil pemeriksaan daya dukung tanah. Pada bagian yang mengalami keruntuhan, diperlukan kajian teknis mengenai pembangunan dinding penahan tanah (retaining wall) untuk menahan tekanan lateral tanah dan menjaga kestabilan badan jalan.

Sistem drainase juga perlu dirancang secara memadai, termasuk saluran pembuangan air, lapisan material filter, dan pipa pelepas air (weep holes) untuk mengurangi akumulasi air serta tekanan hidrostatis di belakang struktur penahan.

Pemeriksaan kondisi tanah dan kestabilan lereng perlu menjadi dasar sebelum pekerjaan rehabilitasi dilaksanakan. Dengan demikian, konstruksi yang dibangun kembali tidak hanya memulihkan fungsi jalan, tetapi juga memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap curah hujan tinggi.

Keselamatan Masyarakat Harus Diutamakan

Jalan pertanian tersebut memiliki fungsi penting dalam menunjang mobilitas masyarakat dan aktivitas petani. Karena itu, penanganan kerusakan perlu menjadi perhatian dengan mengutamakan keselamatan serta keberlanjutan infrastruktur.

Selama kondisi tanah dan struktur belum dinyatakan aman, masyarakat diimbau menghindari area keruntuhan. Pembatasan akses sementara diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan pergerakan tanah susulan, terutama apabila hujan kembali mengguyur kawasan tersebut.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur di kawasan persawahan dengan kondisi tanah yang labil membutuhkan perencanaan konstruksi yang menyesuaikan karakteristik alam. Semangat swakelola dan gotong royong masyarakat dalam membangun fasilitas desa perlu diimbangi dengan penerapan konstruksi yang tepat, pondasi yang memadai, serta sistem drainase yang baik.

Sebab, kekuatan sebuah infrastruktur tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat di permukaan, tetapi terutama oleh kekuatan pondasi dan kemampuannya menghadapi kondisi alam.