Taro Kelod, 10 Agustus 2026 — Desa Adat Taro Kelod kembali menghadirkan ruang pembelajaran dan pendalaman nilai-nilai keagamaan melalui kegiatan Dharma Wecana Metatah Masal yang menghadirkan Ida Pandita Mpu Jaya Dhaksa Samyoga sebagai narasumber.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin, 10 Agustus 2026 tersebut mengangkat tema:
“Ngicalang Sad Ripru, Ngwangun Generasi Sane Sadu Santosa, Ngelanturang Sradha Bhakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa.”

Tema tersebut menjadi landasan penting dalam pelaksanaan Dharma Wecana, khususnya dalam memberikan pemahaman kepada krama mengenai bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat menjadi pedoman dalam membangun pribadi, keluarga, serta generasi yang memiliki karakter, kesadaran spiritual dan kehidupan yang selaras dengan ajaran Dharma.

Diawali Sembahyang Bersama
Rangkaian kegiatan diawali dengan sembahyang bersama di Pura Puseh. Prosesi tersebut menjadi bagian penting sebelum seluruh krama melanjutkan kegiatan menuju Balai Wantilan Taro Kelod sebagai tempat pelaksanaan Dharma Wecana.
Suasana religius dan penuh kebersamaan begitu terasa. Krama lanang dan istri Desa Adat Taro Kelod hadir dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias. Kehadiran krama dalam jumlah yang cukup besar menunjukkan tingginya perhatian dan kebutuhan masyarakat terhadap kegiatan pembelajaran keagamaan yang dikemas secara komunikatif dan kontekstual.

Mengupas Persoalan Manusa Yadnya
Dalam penyampaiannya, Ida Pandita Mpu Jaya Dhaksa Samyoga memberikan pencerahan secara mendalam mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan Manusa Yadnya, termasuk persoalan dan pemahaman yang berkembang di masyarakat terkait pelaksanaan prosesi mesangih.
Materi tidak hanya disampaikan dari sisi ritual, tetapi juga diarahkan pada pemahaman mengenai makna, tujuan, nilai spiritual, serta tanggung jawab umat dalam menjalankan setiap tahapan yadnya.
Hal tersebut menjadi penting agar pelaksanaan tradisi keagamaan tidak berhenti pada aspek seremonial semata, tetapi benar-benar dipahami sebagai bagian dari perjalanan spiritual dan pembentukan karakter manusia.

Penyampaian Komunikatif, Serius Namun Penuh Humor
Salah satu hal yang membuat Dharma Wecana berlangsung menarik adalah cara penyampaian narasumber yang komunikatif, ringan, namun tetap sarat dengan substansi keagamaan.
Di tengah pembahasan yang serius, Ida Pandita Mpu Jaya Dhaksa Samyoga sesekali menyelipkan lawakan, ilustrasi, dan apersepsi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Cara tersebut berhasil menciptakan suasana yang lebih cair tanpa mengurangi kedalaman materi yang disampaikan.
Tawa dan respons spontan krama beberapa kali terdengar di tengah kegiatan. Namun di balik suasana yang penuh keakraban tersebut, pesan-pesan keagamaan tetap tersampaikan dengan kuat dan mudah dipahami.
Pendekatan seperti ini membuat Dharma Wecana tidak terasa sebagai sebuah kegiatan satu arah, melainkan menjadi ruang dialog dan pembelajaran bersama antara narasumber dengan krama.

Krama Aktif Bertanya dan Berdiskusi
Antusiasme krama semakin terlihat ketika sesi interaksi dibuka. Sejumlah krama secara aktif menyampaikan pertanyaan dan persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang berkaitan dengan Manusa Yadnya dan prosesi mesangih.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dijawab secara langsung oleh narasumber dengan penjelasan yang komprehensif, sehingga memberikan kesempatan kepada krama untuk memperoleh pemahaman yang lebih jelas berdasarkan konteks keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat Bali.
Interaksi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan karena menunjukkan bahwa Dharma Wecana mampu menjadi media literasi keagamaan yang hidup, bukan sekadar penyampaian materi secara formal.
Tiga Jam Penuh Pencerahan
Kegiatan Dharma Wecana berlangsung selama kurang lebih tiga jam penuh, mulai pukul 18.30 hingga 21.30 WITA.
Meski berlangsung cukup lama, antusiasme krama tetap terjaga hingga kegiatan berakhir. Hal tersebut tidak terlepas dari materi yang relevan dengan kehidupan masyarakat serta gaya penyampaian narasumber yang mampu menggabungkan kedalaman pengetahuan, nilai spiritual, dialog, humor, dan pengalaman kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar kegiatan menjelang pelaksanaan Metatah Masal, Dharma Wecana ini menjadi momentum bagi krama Desa Adat Taro Kelod untuk kembali memperkuat pemahaman bahwa setiap pelaksanaan yadnya hendaknya dilandasi oleh pengetahuan, ketulusan, kesadaran, dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Menanamkan Nilai Dharma untuk Generasi
Melalui kegiatan ini, Desa Adat Taro Kelod tidak hanya mempersiapkan krama secara pengetahuan dalam menyambut pelaksanaan Metatah Masal, tetapi juga berupaya membangun kesadaran bahwa tradisi keagamaan memiliki nilai pendidikan dan spiritual yang sangat penting bagi generasi penerus.
Pesan “Ngicalang Sad Ripru, Ngwangun Generasi Sane Sadu Santosa, Ngelanturang Sradha Bhakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa” menjadi refleksi bahwa pengendalian diri, pembentukan karakter, serta penguatan sradha dan bhakti merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
Dharma Wecana pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi mampu menjadi bekal pengetahuan dan tuntunan bagi krama dalam menjalankan kehidupan beragama, bermasyarakat, serta meneruskan nilai-nilai luhur Hindu kepada generasi berikutnya.
Catatan: Dokumentasi video lengkap kegiatan Dharma Wecana saat ini masih dalam proses editing dan akan segera ditayangkan melalui channel YouTube Dueg Creative. Informasi mengenai penayangan video akan disampaikan setelah proses editing selesai.