Jakarta — Desa Wisata Taro kembali mendapat kesempatan untuk memperkenalkan potensi pariwisata berbasis masyarakat di tingkat nasional melalui keikutsertaannya dalam Ekshibisi Pesona Nusantara, bagian dari rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata.

Kegiatan yang berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) Hall A&B tersebut menjadi ruang pertemuan berbagai potensi desa wisata Indonesia. Melalui ekshibisi ini, desa wisata mendapatkan kesempatan untuk melakukan showcase sekaligus memperkenalkan destinasi, paket wisata, kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Bagi Desa Wisata Taro, kesempatan tersebut menjadi momentum penting untuk membawa cerita tentang sebuah desa di Kabupaten Gianyar, Bali, ke panggung yang lebih luas. Taro hadir bukan hanya sebagai sebuah destinasi wisata, tetapi sebagai representasi dari potensi pariwisata yang tumbuh dari kehidupan masyarakat, budaya, alam, tradisi, serta kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas desa.

Dalam kegiatan tersebut, Desa Wisata Taro dihadiri oleh Ketua Pokdarwis Desa Wisata Taro, I Wayan Gede Ardika, SE., bersama salah satu anggota Pokdarwis Desa Wisata Taro, I Wayan Sutiawan. Kehadiran keduanya menjadi bagian dari upaya memperkenalkan secara langsung berbagai potensi dan keunggulan Desa Wisata Taro sekaligus membuka ruang interaksi dan jejaring dengan berbagai pihak.

Undangan Bank Indonesia tersebut memiliki arti strategis bagi Desa Wisata Taro. Dalam surat resmi Bank Indonesia tertanggal 12 Agustus 2026, Desa Wisata Taro tercantum sebagai salah satu dari enam desa wisata yang diundang untuk berpartisipasi dalam Ekshibisi Pesona Nusantara. Taro berada bersama Desa Wisata Iboih, Desa Wisata Tanjung Binga, Desa Wisata Wukirsari, Desa Wisata Poncokusumo, dan Desa Wisata Bilebante. 

Lebih dari sekadar ruang promosi, Ekshibisi Pesona Nusantara menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia bersama Kementerian Pariwisata dalam mendukung pengembangan dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), termasuk sektor pariwisata. Konsep ekshibisi menghadirkan booth desa wisata yang menyajikan informasi destinasi dan paket wisata serta berbagai aktivitas interaktif untuk memperkenalkan kekayaan alam, budaya, dan kearifan lokal Indonesia kepada masyarakat.

Dalam perspektif pengembangan desa wisata, pendekatan tersebut menjadi sangat penting. Pariwisata tidak semestinya hanya dipandang sebagai aktivitas mendatangkan wisatawan, melainkan sebagai sebuah ekosistem yang dapat membuka ruang tumbuh bagi masyarakat dan pelaku ekonomi lokal.

Ketika sebuah desa menjadi destinasi, maka berbagai unsur kehidupan masyarakat memiliki peluang untuk ikut bergerak. Pengalaman wisata, produk lokal, kuliner, jasa, kreativitas, budaya, hingga berbagai aktivitas masyarakat dapat menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata.

Di sinilah konsep pariwisata berbasis masyarakat menemukan relevansinya. Masyarakat bukan sekadar objek yang menyaksikan perkembangan pariwisata, tetapi menjadi bagian penting dari proses penciptaan pengalaman dan nilai ekonomi di dalamnya.

Desa Wisata Taro memiliki kekuatan pada keterhubungan tersebut. Keindahan alam tidak berdiri sendiri. Budaya tidak sekadar menjadi pertunjukan. Tradisi bukan hanya peninggalan masa lalu. Semuanya hidup berdampingan dengan masyarakat dan menjadi bagian dari karakter Taro sebagai desa wisata.

Karena itu, memperkenalkan Taro berarti memperkenalkan sebuah pengalaman yang lebih utuh tentang kehidupan desa Bali.

Kesempatan tampil dalam Ekshibisi Pesona Nusantara juga membuka ruang bagi Desa Wisata Taro untuk memperluas jejaring dan membangun kemungkinan kolaborasi dengan berbagai pihak. Dalam perkembangan industri pariwisata yang semakin kompetitif, kemampuan sebuah destinasi untuk membangun jaringan, memperkuat komunikasi, dan memperkenalkan keunggulan secara tepat menjadi bagian penting dari keberlanjutan pengembangan destinasi.

Bagi Pokdarwis Desa Wisata Taro, kehadiran dalam forum tersebut menjadi kesempatan untuk membawa identitas Taro secara langsung ke hadapan publik. I Wayan Gede Ardika, SE. selaku Ketua Pokdarwis bersama I Wayan Sutiawan turut mengambil bagian dalam memperkenalkan potensi Desa Wisata Taro serta membawa semangat masyarakat desa untuk terus mengembangkan pariwisata yang berakar pada kekuatan lokal.

Pada akhirnya, kemajuan desa wisata tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak wisatawan yang datang. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana pariwisata mampu memberikan manfaat, membuka peluang, memperkuat masyarakat, sekaligus menjaga nilai-nilai yang menjadi identitas sebuah desa.

Itulah sebabnya setiap kesempatan untuk memperkenalkan Desa Wisata Taro di tingkat nasional memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar promosi. Ia merupakan bagian dari proses membangun kepercayaan, memperluas jejaring, membuka peluang kerja sama, dan memperkuat posisi desa sebagai salah satu aktor penting dalam ekosistem pariwisata Indonesia.

Desa Wisata Taro akan terus melangkah dengan satu prinsip penting: berkembang tanpa kehilangan jati diri, terbuka terhadap dunia tanpa meninggalkan akar budaya, serta menjadikan masyarakat sebagai bagian utama dari perjalanan pariwisata.

Sebab desa wisata yang kuat bukanlah desa yang mengubah dirinya hanya untuk menjadi destinasi, melainkan desa yang mampu menjadikan alam, budaya, tradisi, kehidupan masyarakat, dan kearifan lokal sebagai kekuatan untuk menghadirkan pengalaman wisata yang autentik dan berkelanjutan.

Keikutsertaan Desa Wisata Taro dalam Ekshibisi Pesona Nusantara KKI 2026 menjadi satu lagi langkah dalam perjalanan panjang tersebut.

Dari Taro, tumbuh sebuah cerita. Dari Gianyar, cerita itu dibawa lebih jauh. Dan dari Bali, Desa Wisata Taro ikut memperkenalkan kekayaan desa wisata Indonesia kepada Indonesia dan dunia.


Redaksi/Penulis: IT Desa Taro