TARO, TEGALLALANG – Pemerintah Desa Taro kembali menegaskan komitmennya dalam membangun tata kelola lingkungan yang berkelanjutan melalui penyelenggaraan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kinerja Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Taro Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi capaian program, mengidentifikasi berbagai tantangan, serta merumuskan arah pengembangan pengelolaan sampah berbasis sumber yang lebih profesional, efektif, dan berkelanjutan.

Sebagai salah satu desa percontohan pengelolaan sampah berbasis sumber di Provinsi Bali, Desa Taro terus menunjukkan komitmennya dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, partisipatif, dan berbasis ekonomi sirkular. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari sinergi antara Pemerintah Desa Taro dengan Yayasan Bumi Sasmaya melalui Program Merah Putih Hijau (MPH) yang secara konsisten mendampingi pengembangan TPS3R Desa Taro sejak tahun 2019.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Sekretaris Desa Taro, I Made Rupa, SH, ini dihadiri oleh Perbekel Taro I Wayan Warka, Direktur BUMDes Sarwada Amertha Desa Taro I Wayan Kerta yang lebih akrab disapa Nanang, Babinsa, Bhabinkamtibmas, seluruh perangkat desa dan staf Pemerintah Desa Taro, para Kelihan Banjar Dinas se-Desa Taro, pengelola TPS3R Desa Taro, serta tim pendamping dari Program Merah Putih Hijau (MPH), yakni Krisna dan Mimit.

Rekam Jejak TPS3R Desa Taro Sejak 2019

Dalam pemaparannya, Krisna menyampaikan rekam jejak perkembangan TPS3R Desa Taro sejak tahun 2019. Berbagai tahapan pembangunan sistem pengelolaan sampah berbasis sumber telah dilaksanakan, mulai dari penerapan budaya memilah sampah dari rumah tangga, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga penyempurnaan tata kelola operasional TPS3R.

Selain itu, tim MPH memaparkan hasil pendampingan selama enam tahun terakhir yang meliputi perkembangan pengelolaan sampah berbasis sumber, kalkulasi timbulan sampah, evaluasi sistem operasional, perkembangan pendapatan dan biaya operasional, berbagai kendala di lapangan, serta strategi pengembangan TPS3R ke depan.

Pendekatan berbasis data tersebut menjadi dasar dalam menyusun kebijakan pengelolaan sampah yang lebih tepat sasaran sekaligus memastikan keberlanjutan operasional TPS3R di masa mendatang.

Menjadi Rujukan Tingkat Nasional Hingga Internasional

Dalam presentasinya, MPH juga menampilkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan di Desa Taro. Berbagai praktik baik tersebut berhasil membangun sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada penanganan limbah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui budaya memilah sampah sejak dari sumber.

Keberhasilan tersebut dibuktikan dengan tingginya minat berbagai pemerintah daerah, desa, perguruan tinggi, komunitas, hingga lembaga dari berbagai provinsi di Indonesia yang datang untuk melakukan studi banding dan mempelajari sistem pengelolaan sampah di Desa Taro.

Tidak hanya di tingkat nasional, TPS3R Desa Taro juga secara konsisten menjadi destinasi wisata edukasi lingkungan bagi berbagai sekolah internasional dan tamu mancanegara yang ingin mempelajari konsep pengelolaan sampah berbasis sumber, penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), serta ekonomi sirkular berbasis masyarakat. Hal tersebut semakin mengukuhkan posisi TPS3R Desa Taro sebagai salah satu model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang mendapat pengakuan di tingkat daerah, nasional, hingga internasional.

Membahas Tantangan dan Strategi Keberlanjutan

Dalam forum monitoring dan evaluasi, tim MPH mengangkat sejumlah isu strategis yang menjadi perhatian bersama, di antaranya:

  • Arah pengelolaan sampah Desa Taro di tengah penurunan alokasi Dana Desa dan perubahan kebijakan pemerintah.
  • Evaluasi data timbulan sampah sebagai dasar penyusunan kebijakan berbasis data.
  • Kendala operasional TPS3R dan strategi penguatan kelembagaan.
  • Penentuan skema kerja dan sistem penggajian pegawai TPS3R.
  • Optimalisasi sumber pendapatan serta keberlanjutan pembiayaan operasional TPS3R.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terjadi perubahan pola kerja dibandingkan SOP tahun 2021. Jam kerja efektif yang sebelumnya sekitar delapan jam kini hanya berkisar enam jam per hari. Beberapa aktivitas seperti penyiraman kompos, pencacahan, penimbangan hasil pemilahan, kebersihan fasilitas, serta briefing rutin belum berjalan secara optimal sehingga perlu menjadi perhatian bersama.

Evaluasi Pendapatan dan Operasional TPS3R

Dalam sesi diskusi, Direktur BUMDes Sarwada Amertha Desa Taro, I Wayan Kerta (Nanang) menyampaikan bahwa pada tahun 2022, TPS3R Desa Taro mampu menghasilkan pendapatan yang cukup baik. Selain berasal dari produksi kompos, pemasukan juga diperoleh melalui program wisata edukasi, di mana banyak siswa dari sekolah-sekolah internasional datang untuk belajar mengenai pengelolaan sampah berbasis sumber.

Namun hingga tahun 2025, produksi kompos mengalami penurunan akibat keterbatasan tenaga kerja. Petugas lebih diprioritaskan untuk melaksanakan proses pemilahan sampah agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal.

Paparan MPH juga menunjukkan bahwa penurunan pendapatan TPS3R dipengaruhi oleh menurunnya produksi kompos, berkurangnya kontribusi unit usaha, serta perubahan mekanisme pengelolaan hasil penjualan sampah anorganik. Di sisi lain, biaya operasional masih didominasi oleh gaji pegawai dan biaya transportasi pengangkutan sampah.

TPS3R Harus Menjadi Pusat Edukasi dan Pusat Data

Dalam paparannya, Mas Mimit menegaskan bahwa TPS3R Desa Taro tidak hanya dipandang sebagai unit pengelolaan sampah ataupun entitas bisnis semata, tetapi juga merupakan bagian penting dari pengembangan pariwisata berbasis edukasi di Desa Taro.

Menurutnya, seluruh aktivitas TPS3R harus terdokumentasi dengan baik, mulai dari volume sampah yang dikelola, produksi kompos, kunjungan edukasi, aktivitas operasional, hingga jumlah tamu yang datang. Data tersebut sangat penting sebagai dasar monitoring, evaluasi, penyusunan kebijakan, dan pengukuran perkembangan kinerja TPS3R dari tahun ke tahun.

Ia juga menekankan pentingnya pencatatan administrasi yang lebih lengkap, termasuk hasil penjualan sampah anorganik, biaya lembur, serta seluruh arus kas TPS3R. Dengan pencatatan yang baik, TPS3R tidak hanya dipandang sebagai unit yang menghasilkan pengeluaran, tetapi juga mampu menunjukkan potensi income yang dihasilkan melalui berbagai aktivitas pengelolaan sampah dan wisata edukasi.

Efisiensi Transportasi Melalui Mesin Press Sampah

Sebagai salah satu strategi peningkatan efisiensi operasional, Mas Mimit mengusulkan pemanfaatan mesin press sampah sebelum proses pengangkutan dilakukan. Dengan sampah yang telah dipadatkan, kapasitas angkut kendaraan dapat dimaksimalkan sehingga frekuensi perjalanan armada menjadi lebih sedikit, biaya transportasi dapat ditekan, konsumsi bahan bakar lebih hemat, serta pengangkutan residu menjadi lebih efektif dan efisien.

Selain itu, MPH juga merekomendasikan pengadaan berbagai sarana pendukung seperti alat berat untuk proses pengomposan, mesin pengolah limbah organik, incinerator residu, revitalisasi gudang penyimpanan, penataan ruang edukasi, hingga peningkatan fasilitas penunjang lainnya.

Penguatan SDM Menjadi Prioritas

MPH juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia TPS3R, tidak hanya dalam aspek teknis pengelolaan sampah dan pengomposan, tetapi juga edukasi masyarakat, pengelolaan bisnis persampahan, serta kemampuan berbahasa Inggris mengingat tingginya kunjungan tamu dari luar negeri.

Arahan Perbekel Taro

Dalam arahannya, Perbekel Taro I Wayan Warka menegaskan bahwa disiplin kerja seluruh petugas TPS3R harus terus ditingkatkan. Beliau menyoroti bahwa pelaksanaan SOP masih belum maksimal dan masih ditemukan petugas yang tidak hadir atau bolos kerja. Oleh karena itu, seluruh petugas diminta meningkatkan kedisiplinan, rasa tanggung jawab, dan profesionalisme agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan secara optimal.

Perbekel juga mengingatkan pentingnya merawat seluruh aset operasional, khususnya kendaraan pengangkut sampah. Menurutnya, armada transportasi merupakan aset desa yang harus dipelihara secara rutin agar tetap dalam kondisi prima, memiliki usia pakai yang panjang, serta mampu mendukung operasional TPS3R secara berkelanjutan.

Selain itu, beliau meminta seluruh petugas TPS3R untuk senantiasa menjaga kebersihan, kerapian, dan estetika kawasan TPS3R. Mengingat TPS3R Desa Taro telah menjadi lokasi studi banding dan wisata edukasi yang rutin menerima kunjungan dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara, kawasan TPS3R harus selalu tampil bersih, tertata, nyaman, dan representatif sebagai wajah Desa Taro dalam pengelolaan lingkungan.

Tindak Lanjut Pemerintah Desa

Menutup rangkaian kegiatan monitoring dan evaluasi, Sekretaris Desa Taro, I Made Rupa, SH, menyampaikan bahwa seluruh rekomendasi yang dihasilkan akan menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut Pemerintah Desa Taro. Terkait usulan pengadaan mesin press sampah, Pemerintah Desa Taro berencana melakukan kunjungan studi lapangan ke TPS3R atau lokasi yang telah mengoperasikan mesin tersebut.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk mempelajari secara langsung sistem kerja, kapasitas mesin, kebutuhan investasi, biaya operasional dan pemeliharaan, serta efektivitasnya dalam meningkatkan efisiensi pengangkutan sampah. Hasil studi tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan dan perencanaan pengembangan sarana pendukung TPS3R Desa Taro.

Komitmen Menuju Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Melalui pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi Kinerja TPS3R Tahun 2026 ini, Pemerintah Desa Taro bersama Yayasan Bumi Sasmaya melalui Program Merah Putih Hijau (MPH), BUMDes Sarwada Amertha, serta seluruh pemangku kepentingan kembali menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis sumber melalui inovasi, tata kelola yang akuntabel, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas sektor.

Dengan semangat gotong royong dan perbaikan berkelanjutan, TPS3R Desa Taro diharapkan terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu model pengelolaan sampah berbasis sumber terbaik di Indonesia yang tidak hanya menjadi rujukan berbagai daerah di tanah air, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan wisata edukasi lingkungan yang mendapat pengakuan di tingkat internasional.