
Study Banding Desa Taro ke Desa Wisata Hijau Bilebante Lombok Tengah Menyusuri Jejak Sejarah Spiritualitas dan Kolaborasi Pariwisata Berkelanjutan
Desa Taro kembali meneguhkan komitmennya dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan melalui kegiatan study banding ke Desa Wisata Hijau Bilebante, Lombok Tengah. Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan perjalanan historis dan spiritual yang mempererat hubungan budaya Bali dan Lombok yang telah terjalin sejak ratusan tahun silam.
Perjalanan dimulai pada tanggal 5 pukul 08.30 WITA dengan berkumpul di Kantor Desa Taro. Tepat pukul 09.00 rombongan bertolak menuju Pelabuhan Padangbai dan tiba sekitar pukul 23.00 malam. Setelah beristirahat sejenak sambil menikmati kopi, rombongan melanjutkan perjalanan dengan kapal yang berangkat pukul 01.00 dini hari tanggal 6 dan tiba di Pelabuhan Lembar, Lombok, pukul 05.30 pagi. Hangatnya suasana pagi di Lombok menyambut rombongan yang kemudian beristirahat sejenak sambil menunggu bus penjemputan.
Pukul 09.00 WITA, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Desa Wisata Hijau Bilebante. Setibanya di sana, peserta bersiap dengan mandi dan mengenakan pakaian adat Bali untuk melaksanakan persembahyangan di Pura Lingsar Kelod. Di pura bersejarah tersebut, rombongan disambut oleh Jero Mangku dan bersama-sama melaksanakan persembahyangan dengan khusyuk.
Pura Lingsar merupakan simbol penting harmonisasi budaya Bali dan Sasak. Dibangun pada abad ke-18 oleh Raja Karangasem dari Bali, pura ini mencerminkan kebijakan politik dan spiritual kerajaan Karangasem yang kala itu memperluas pengaruhnya ke Pulau Lombok. Pura ini menjadi ruang suci bersama bagi umat Hindu Bali dan masyarakat Sasak penganut Islam Wetu Telu, menegaskan nilai toleransi yang telah hidup lama di tanah Lombok.
Secara historis, hubungan Bali dan Lombok tidak dapat dipisahkan dari dinamika kekuasaan Kerajaan Karangasem. Pada abad ke-17 hingga ke-19, ekspansi politik Karangasem ke Lombok melahirkan berbagai peristiwa penting, termasuk sejumlah peperangan di wilayah Lombok Tengah. Bilebante dan kawasan sekitarnya diyakini menjadi bagian dari wilayah strategis dalam pergolakan antara pasukan Anak Agung dari Karangasem dengan kekuatan lokal Sasak pada masa itu. Pertempuran-pertempuran tersebut menjadi fase penting dalam pembentukan struktur sosial dan budaya Lombok modern, yang kemudian memperlihatkan akulturasi kuat antara budaya Bali dan Sasak.
Nama “Bilebante” sendiri berkembang dari sejarah panjang masyarakat agraris Sasak yang hidup berdampingan dengan alam. Kini desa tersebut dikenal sebagai Desa Wisata Hijau, mengusung konsep ekowisata berbasis pertanian, perikanan, dan kearifan lokal. Nilai-nilai ini selaras dengan semangat eco-spiritual tourism yang juga dikembangkan Desa Taro.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Kawasan Mandalika, Bukit Merese, dan Pantai Kuta Mandalika—destinasi unggulan Lombok Tengah yang kini mendunia. Keindahan bentang alam pesisir selatan Lombok menjadi inspirasi dalam pengembangan pariwisata berbasis keberlanjutan.
Keesokan harinya, rombongan mengunjungi Taman Narmada, taman kerajaan peninggalan Raja Karangasem yang dibangun pada tahun 1727 sebagai replika Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak. Di sana, peserta berkesempatan memohon tirta yang diyakini sebagai simbol awet muda, sekaligus mengenang kuatnya jejak sejarah Kerajaan Karangasem di Lombok.
Perjalanan dilanjutkan ke pusat oleh-oleh dan kuliner lokal, termasuk Pasar Wahana dan Lombok Exotic, sebelum menuju Gili Trawangan. Dahulu merupakan perkampungan nelayan sederhana, Gili Trawangan berkembang pesat sejak dekade 1980-an menjadi destinasi wisata internasional. Pulau kecil ini menjadi contoh sukses pengelolaan potensi bahari yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.
Secara etimologis, “Lombok” berasal dari kata Sasak lomboq yang berarti lurus atau jujur, mencerminkan karakter masyarakatnya. Sementara hubungan Bali dan Lombok terus hidup dalam tradisi, arsitektur pura, sistem irigasi, hingga upacara keagamaan yang masih dijaga hingga kini.
Setelah bermalam di kawasan Gili Trawangan, rombongan kembali ke daratan Lombok pukul 06.00 pagi dan langsung menuju Pelabuhan Lembar untuk menyeberang ke Padangbai. Dari Padangbai, perjalanan dilanjutkan kembali menuju Desa Taro dan tiba dengan selamat sekitar pukul 17.00 WITA.
Kegiatan study banding ini menjadi refleksi bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi kolaborasi masa depan. Dari jejak peperangan hingga harmoni spiritual, dari kerajaan hingga desa wisata modern, Bali dan Lombok menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan.
Desa Taro dan Desa Wisata Hijau Bilebante kini melangkah bersama—menguatkan jaringan desa wisata, melestarikan budaya, serta mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Redaksi : Dueg Creative




