
Piodalan Padmasana Kantor Desa Taro, Wujud Bhakti dan Pelestarian Adat Leluhur
Taro, 13 April 2026, Suasana sakral dan penuh khidmat menyelimuti areal Padmasana Kantor Desa Taro pada Senin (13/4/2026), bertepatan dengan hari suci Soma Kliwon Landep, saat dilaksanakannya upacara piodalan nutugang—sebuah rangkaian karya lanjutan dari upacara enam bulan sebelumnya yang kini digelar dengan tingkatan upacara yang lebih utama, ditandai dengan kelengkapan sarana upakara serta prosesi yang lebih kompleks.
Kegiatan ini menjadi momentum spiritual penting bagi seluruh krama Desa Taro, dengan kehadiran lengkap prajuru adat se-Desa Taro serta seluruh jajaran pemerintah Desa Taro, yang bersama-sama menghaturkan bhakti dan persembahan suci sebagai wujud rasa syukur dan keharmonisan antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Secara teknis pelaksanaan upacara, karya suci kali ini dipercayakan kepada Banjar Adat Taro Kaja, yang dengan penuh tanggung jawab dan kekompakan mengemban tugas yadnya, memastikan seluruh rangkaian berjalan sesuai dengan tatanan sastra dan tradisi leluhur.
Prosesi dimulai sejak pukul 10.00 WITA dengan pelaksanaan tabuh rah (tajen) yang merupakan bagian dari sarana upacara caru, sebagai simbol penyucian dan keseimbangan alam semesta. Pelaksanaan ini berlangsung selaras dengan berbagai elemen seni sakral yang turut mengiringi jalannya upacara, seperti wayang kulit, gamelan gong, tari rejang, dan tari topeng, yang tidak hanya menjadi pelengkap estetika, tetapi juga memiliki makna spiritual mendalam dalam setiap gerak dan alunan.
Setelah prosesi awal, dilanjutkan dengan upacara mecaru sebagai bentuk harmonisasi Bhuta Kala, sebelum kemudian memasuki inti upacara yaitu ngodalin atau piodalan, sebagai persembahan utama di Padmasana.
Seluruh rangkaian upacara yang berlangsung hingga pukul 16.00 WITA ini dipuput oleh Dane Jero Mangku Gede Taro, yang memimpin jalannya upacara dengan penuh kesucian dan tuntunan spiritual.
Piodalan ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan semata, namun juga memperkuat nilai kebersamaan, gotong royong, dan pelestarian adat budaya Bali yang telah diwariskan secara turun-temurun. Semangat ngayah yang tercermin dari seluruh pihak yang terlibat menjadi bukti nyata bahwa Desa Taro tetap teguh menjaga jati diri dan warisan leluhur di tengah perkembangan zaman.
.jpeg)



